Tabah Sampai Akhir - Radarhijau

    Social Items

Available Ads 728x90
Assalamualaikum sahabat hijauku.
Tabah Sampai Akhir

Ini adalah tulisan pertamaku di tahun 2019. Aku mencoba untuk lebih sering berbagi cerita di blog ini, terkusus tentang pengalamanku sehari-hari yang sekiranya sedikit "menginspirasi" hehe.

Hampir enam bulan Aku menjalani kuliah ekstensi di kampus Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung. Banyaaaaaaak suka duka yang Aku alamai dan belum sempat Aku bagi di sini. Mungkin inilah saat yang tepat.

Ternyata kuliah ekstensi itu tak semudah yang Aku bayangkan. (Disclaimer: Aku kuliah ekstensi jam reguler). Padahal Aku sepenuhnya kuliah/ tanpa dibarengi kerja. Banyak rangkaian peristiwa penting yang Aku sadari itu semua merubah pola pikirku menjadi lebih dewasa.

1. Perjuangan mendaftar ekstensi di Itenas
Waktu itu bahkan Aku belum wisuda, tetapi harus segera menyelesaikan proses pendaftaran. Tidak terhitung berapa kali Aku pulang-pergi Bandung-Bogor. Di Bogor Aku masih disibukan oleh kegiatan pra Wisuda (daftar wisuda, gladi wisuda, dll) begitupun di Bandung, Aku disibukan dengan proses pendaftaran kuliah di Itenas.

Daftar di Itenas tak semulus yang dibayangkan. Persyaratan di website resmi Itenas tak selengkap persyaratan yang diminta oleh akademik kampus Itenas. Hasilnya Aku harus kembali pulang ke Bogor untuk melengkapi persyaratan tersebut. (Waktu itu Aku lebih meilih untuk pulang-pergi menggunakan kereta Argo Parahiangan).

Kurang lebih ini persyaratan yang diminta:
a) Surat keterangan lulus (SKL)
b) Jika ijazah kalian sudah terbit, diutamakan menggunakan fotocopy legalisir ijazah kalian.
c) Fotocopy KTP
d) Fotocopy Akta Kelahiran
e) Silabus kurikulum pendidikan masa study kalian kuliah waktu di D3.
f) Transkrip Nilai dari semester 1 sampai semester terakhir.
*Aku sedikit lupa. Agar meyakinkan lagi, kalian bisa hubungi bagian academik Itenas di website resminya.

Proses pendaftaran:
1. Penuhi persyaratan
2. Datang ke bgaian akademik Itenas (meminta surat rekomendasi untuk ketua prodi)
3. Datang ke ketua prodi (memberikan surat rekomendasi + persyaratan)
4. Kalain akan diminta menunggu sekitar 1 minggu perihal hasil transfer credit matakuliah kalian yang waktu di D3 ke S1. Barulah kalain mendapat surat yang berisi matakuliah yang di approve (tidak perlu diambil karena sudah di ambil waktu D3) dan matakuliah yang harus diambil saat belajar di Itenas. Kalian akan diminta persetujuan bersedia atau tidak).
5. Setelah bersedia, kalian diminta mendatangi kembali pihak akademik dengan membawa surat transfer credit yang didapatkan dari ketua prodi.
6. Kalian akan disuruh daftar online di website resmi Itenas dan diminta untuk mebayar biaya awal perkuliahan.
7. Pengalamanku, untuk program studi Teknik Lingkungan tidak perlu dilakukan tes awal, jadi kalian auto masuk hehe.
Nah kurang lebih seperti itu.

2. Perlahan teman-temanku satu almuni (teman waktu kuliah di D3 IPB) yang kuliah di Itenas mulai meninggalkan Itenas.
Awal-awal bulan Aku masih semangat berkuliah karena ternyata di Itenas tidak sendiri. Ada beberapa teman lulusan D3 IPB juga (ada yang satu angkatan dan ada juga satu tingkat dari angkatanku). Aku dan teman satu angkatan di D3 (namanya sabil) melakuakn pendaftaran bersama-sama. Sedangkan untuk temanku yang kaka tingkat baru bertemu di kampus itenas (namanya ozi dan deby).

Sabil adalah orang pertama yang meninggalkan Itenas. Kondisinya sangat rumit, memang saat ini Dia diharuskan untuk kerja terlebih dahulu. Aku sebenarnya merasa sedikit tidak rela salah satu temanku pergi dari Itenas. Tapi itulah pilihan terbaik untuk sabil.

Ka Deby adalah orang kedua yang pergi meninggalkan Itenas. Sama, dia juga memilih untuk berkarir. Sepertinya tahun ini Ka Deby mendapatkan kesempatan lulus menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara). Senang dan sedih sih. Tapi Aku selalu support.

Sisa tinggal Ka Ozi. Aku belum terlalu dekat dengan Ka Ozi. Tapi semenjak Sabil dan Ka Deby sudah tidak lagi di Itenas. Hampir setiap hari di kampus, Aku selalu bersama Ka Ozi. Aku belum terlalu dekat dengan teman-teman lainnya. Ada banyak faktor yang membuat Aku sulit mendapatkan teman dekat di Bandung, terkusus di Kampus. Pertama karena Aku satu kelas dengan adik tingkat (karena posisinya Aku sedang mengambil matakuliah semester 3) hal canggung masih kental. Kedua, atmosfer orang-orang jabodetabek sangat berbeda dengan orang-orang Bandung. Orang jabodetabek orangnya lebih terbuka dan mudah diajak berteman sedangkan menurutku orang Bandung lebih menutup diri dan pemalu jadi Akupun sulit untuk memulai pembicaraan apalagi mencoba dekat.

Hampir tidak ada momen jalan bareng dengan teman-teman, kecuali di kampus (paling makan bareng di kantin). Boring! Hidup cuma ke kampus dan mengurung diri di kostan. Oh iya awal-awal sempat sih Aku ikut organisasi pencinta alam. Tapi lagi-lagi keadaan yang membuatku harus meninggalkan organisasi tersebut. Duh kalo diceritain panjang banget. Jadi skip saja.

3. Mencoba mengikuti Tes PNS.
Jujur dari dulu sangat tidak tertarik dengan kerja menjadi PNS/ ASN. Bukannya Aku tidak mau mengabdikan diri ke Negara, tapi memang itu bukan passion ku. Aku lebih setuju menjadi seorang menteri lingkungan mungkin hehe atau konsultan lingkungan atau juga menjadi pengusaha bidang lingkungan jauh lebih keren.

Bermodal ijazah D3 dan beberapa pengalamn organisasi maupun akademiku. Aku memutuskan untuk mengikuti saran dari orangtuaku untuk ikut daftar PNS. Proses pendaftran PNS banyak sekali menyita waktuku. Sampai-sampai UTS pun terbengkalai. Ada beberapa matkuliah yang nilainya tidak memuaskan bahkan lebih parahnya ada matakuliah yang bangkar. Ini bukan Aku banget!!! tapi mau bagaiamana lagi, orangtuaku memintaku untuk mencoba mendaftar PNS.

Resiko yang Aku dapatkan memang banyak. Aku awalanya belum siap. Aku sempat depresi berat melihat akademiku tidak stabil. Tapi setelah difikir ulang. Aku yakin tidak ada yang sia-sia. Aku mulai belajar bangkit. Semua mempunyai hikmah. Aku terima proses pendewasaan ini.

4. Mempersiapkan diri mengejar cita-cita mendapatkan beasiswa kuliah di luarnegeri.
Sekarang tujuan awalku saat duduk di bangku SMA, mulai aku susun kembali. Aku percaya dari D3 bisa menjadi S3. Cita-citaku dari dulu sangat menginginkan untuk berkuliah di luar negeri. Sekarang sebelum terlambat, Aku mulai mencoba mencari-cari informasi mengenai beasiswa S2 di luarnegeri.
Doakan Aku ya sahabat hijau.
Buat kalian jangan patah semangat.

Aku masih ingat perkataan ustad saat khutbah sholat jumat di kompleks Badan Tenaga Nuklir Pasar Jumat. Kurang lebih seperti ini.

"Allah akan menguji hamba-Nya sesuai kemampuan. Jika iman kita kecil, Allah akan menguji kita dengan ujian yang ringan. JIka iman kita besar, Allah akan menguji kita dengan ujian besar. Allah memberikan sebuah ujian untuk menghapus dosa-dosa hamba-Nya, mengingatkan hamba-Nya agar lebih dekat lagi dengan-Nya"

Tabah Sampai Akhir

Assalamualaikum sahabat hijauku.
Tabah Sampai Akhir

Ini adalah tulisan pertamaku di tahun 2019. Aku mencoba untuk lebih sering berbagi cerita di blog ini, terkusus tentang pengalamanku sehari-hari yang sekiranya sedikit "menginspirasi" hehe.

Hampir enam bulan Aku menjalani kuliah ekstensi di kampus Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung. Banyaaaaaaak suka duka yang Aku alamai dan belum sempat Aku bagi di sini. Mungkin inilah saat yang tepat.

Ternyata kuliah ekstensi itu tak semudah yang Aku bayangkan. (Disclaimer: Aku kuliah ekstensi jam reguler). Padahal Aku sepenuhnya kuliah/ tanpa dibarengi kerja. Banyak rangkaian peristiwa penting yang Aku sadari itu semua merubah pola pikirku menjadi lebih dewasa.

1. Perjuangan mendaftar ekstensi di Itenas
Waktu itu bahkan Aku belum wisuda, tetapi harus segera menyelesaikan proses pendaftaran. Tidak terhitung berapa kali Aku pulang-pergi Bandung-Bogor. Di Bogor Aku masih disibukan oleh kegiatan pra Wisuda (daftar wisuda, gladi wisuda, dll) begitupun di Bandung, Aku disibukan dengan proses pendaftaran kuliah di Itenas.

Daftar di Itenas tak semulus yang dibayangkan. Persyaratan di website resmi Itenas tak selengkap persyaratan yang diminta oleh akademik kampus Itenas. Hasilnya Aku harus kembali pulang ke Bogor untuk melengkapi persyaratan tersebut. (Waktu itu Aku lebih meilih untuk pulang-pergi menggunakan kereta Argo Parahiangan).

Kurang lebih ini persyaratan yang diminta:
a) Surat keterangan lulus (SKL)
b) Jika ijazah kalian sudah terbit, diutamakan menggunakan fotocopy legalisir ijazah kalian.
c) Fotocopy KTP
d) Fotocopy Akta Kelahiran
e) Silabus kurikulum pendidikan masa study kalian kuliah waktu di D3.
f) Transkrip Nilai dari semester 1 sampai semester terakhir.
*Aku sedikit lupa. Agar meyakinkan lagi, kalian bisa hubungi bagian academik Itenas di website resminya.

Proses pendaftaran:
1. Penuhi persyaratan
2. Datang ke bgaian akademik Itenas (meminta surat rekomendasi untuk ketua prodi)
3. Datang ke ketua prodi (memberikan surat rekomendasi + persyaratan)
4. Kalain akan diminta menunggu sekitar 1 minggu perihal hasil transfer credit matakuliah kalian yang waktu di D3 ke S1. Barulah kalain mendapat surat yang berisi matakuliah yang di approve (tidak perlu diambil karena sudah di ambil waktu D3) dan matakuliah yang harus diambil saat belajar di Itenas. Kalian akan diminta persetujuan bersedia atau tidak).
5. Setelah bersedia, kalian diminta mendatangi kembali pihak akademik dengan membawa surat transfer credit yang didapatkan dari ketua prodi.
6. Kalian akan disuruh daftar online di website resmi Itenas dan diminta untuk mebayar biaya awal perkuliahan.
7. Pengalamanku, untuk program studi Teknik Lingkungan tidak perlu dilakukan tes awal, jadi kalian auto masuk hehe.
Nah kurang lebih seperti itu.

2. Perlahan teman-temanku satu almuni (teman waktu kuliah di D3 IPB) yang kuliah di Itenas mulai meninggalkan Itenas.
Awal-awal bulan Aku masih semangat berkuliah karena ternyata di Itenas tidak sendiri. Ada beberapa teman lulusan D3 IPB juga (ada yang satu angkatan dan ada juga satu tingkat dari angkatanku). Aku dan teman satu angkatan di D3 (namanya sabil) melakuakn pendaftaran bersama-sama. Sedangkan untuk temanku yang kaka tingkat baru bertemu di kampus itenas (namanya ozi dan deby).

Sabil adalah orang pertama yang meninggalkan Itenas. Kondisinya sangat rumit, memang saat ini Dia diharuskan untuk kerja terlebih dahulu. Aku sebenarnya merasa sedikit tidak rela salah satu temanku pergi dari Itenas. Tapi itulah pilihan terbaik untuk sabil.

Ka Deby adalah orang kedua yang pergi meninggalkan Itenas. Sama, dia juga memilih untuk berkarir. Sepertinya tahun ini Ka Deby mendapatkan kesempatan lulus menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara). Senang dan sedih sih. Tapi Aku selalu support.

Sisa tinggal Ka Ozi. Aku belum terlalu dekat dengan Ka Ozi. Tapi semenjak Sabil dan Ka Deby sudah tidak lagi di Itenas. Hampir setiap hari di kampus, Aku selalu bersama Ka Ozi. Aku belum terlalu dekat dengan teman-teman lainnya. Ada banyak faktor yang membuat Aku sulit mendapatkan teman dekat di Bandung, terkusus di Kampus. Pertama karena Aku satu kelas dengan adik tingkat (karena posisinya Aku sedang mengambil matakuliah semester 3) hal canggung masih kental. Kedua, atmosfer orang-orang jabodetabek sangat berbeda dengan orang-orang Bandung. Orang jabodetabek orangnya lebih terbuka dan mudah diajak berteman sedangkan menurutku orang Bandung lebih menutup diri dan pemalu jadi Akupun sulit untuk memulai pembicaraan apalagi mencoba dekat.

Hampir tidak ada momen jalan bareng dengan teman-teman, kecuali di kampus (paling makan bareng di kantin). Boring! Hidup cuma ke kampus dan mengurung diri di kostan. Oh iya awal-awal sempat sih Aku ikut organisasi pencinta alam. Tapi lagi-lagi keadaan yang membuatku harus meninggalkan organisasi tersebut. Duh kalo diceritain panjang banget. Jadi skip saja.

3. Mencoba mengikuti Tes PNS.
Jujur dari dulu sangat tidak tertarik dengan kerja menjadi PNS/ ASN. Bukannya Aku tidak mau mengabdikan diri ke Negara, tapi memang itu bukan passion ku. Aku lebih setuju menjadi seorang menteri lingkungan mungkin hehe atau konsultan lingkungan atau juga menjadi pengusaha bidang lingkungan jauh lebih keren.

Bermodal ijazah D3 dan beberapa pengalamn organisasi maupun akademiku. Aku memutuskan untuk mengikuti saran dari orangtuaku untuk ikut daftar PNS. Proses pendaftran PNS banyak sekali menyita waktuku. Sampai-sampai UTS pun terbengkalai. Ada beberapa matkuliah yang nilainya tidak memuaskan bahkan lebih parahnya ada matakuliah yang bangkar. Ini bukan Aku banget!!! tapi mau bagaiamana lagi, orangtuaku memintaku untuk mencoba mendaftar PNS.

Resiko yang Aku dapatkan memang banyak. Aku awalanya belum siap. Aku sempat depresi berat melihat akademiku tidak stabil. Tapi setelah difikir ulang. Aku yakin tidak ada yang sia-sia. Aku mulai belajar bangkit. Semua mempunyai hikmah. Aku terima proses pendewasaan ini.

4. Mempersiapkan diri mengejar cita-cita mendapatkan beasiswa kuliah di luarnegeri.
Sekarang tujuan awalku saat duduk di bangku SMA, mulai aku susun kembali. Aku percaya dari D3 bisa menjadi S3. Cita-citaku dari dulu sangat menginginkan untuk berkuliah di luar negeri. Sekarang sebelum terlambat, Aku mulai mencoba mencari-cari informasi mengenai beasiswa S2 di luarnegeri.
Doakan Aku ya sahabat hijau.
Buat kalian jangan patah semangat.

Aku masih ingat perkataan ustad saat khutbah sholat jumat di kompleks Badan Tenaga Nuklir Pasar Jumat. Kurang lebih seperti ini.

"Allah akan menguji hamba-Nya sesuai kemampuan. Jika iman kita kecil, Allah akan menguji kita dengan ujian yang ringan. JIka iman kita besar, Allah akan menguji kita dengan ujian besar. Allah memberikan sebuah ujian untuk menghapus dosa-dosa hamba-Nya, mengingatkan hamba-Nya agar lebih dekat lagi dengan-Nya"