Social Items

Tanggal 11 oktober 2018 film danur resmi di tayangkan di bioskop. Film danur ini salah satu film yang tiketnya bisa di pre order loh.. bahkan saya perhatikan di H-3 penayangan , teater teater pemutaran film Asih sudah penuh. Bahkan saya pun hanya mendapatkan tiket nonton di kursi shift K (lumayan dekat dengan layar, tapi untungnya masih nyaman buat menikmati film). Dari hal tersebut terlihat kan antusias warga pencinta film dalam menyaksikan film Asih.

Poster film Asih (2018)
Poster film Asih (2018)


Oh iya sebagai disclimer. Jujur saya belum pernah menonton series danur univers lainnya, so saya tidak bisa membandingkan film asih ini dengan serial film danur lainnya. Jadi Maafkan Saya ya..

Tapi saya penasaran dengan arti “danur” itu sendiri. Setelah saya cari di KBBI dan ternyata arti danur itu adalah air yang keluar dari bangkai (mayat) yang sudah membusuk. Wah serem juga ya.

Ok, back to the review. Hal pertama yang terlintas saat selesai menonton film asih adalah “Ini film bikin orang nggak betah nonton, disetiap detik menonton penonton sudah digiring ke perasaan takut “dikagetkan” dan setelah kaget ya sudah selesai, tak ada hal lain lagi yang membekas”.

Buat kalian pencinta jumpscare, seriusan kalian harus nonton film asih. Di sini sang sutradara om Awi Suryadi melakukan teknik jumpscare begitu closer, seakan akan memang hantu itu ada di samping kanan kiri kita. Jujur saya sendiri banyak melakukan tutup kuping dan menyipitkan mata haha. Intinya sang sutrasara sangat ahli dalam menakut nakuti penonton. Jika ditelaah lagi sebenernya menurut saya hantu yang ada tidak seram sama sekali, tapi itu semua tertutupi oleh teknik jumpscare yang ada. 

Menilik dari story line, setelah saya baca dari berbagai sumber bahwa film asih ini adalah film pre quel dari Danur 1 dan Danur 2. Bahkan kejadiannya 37 tahun yang lalu. Masih sama, film Asih ini juga di adaptasi dari novel karya Risa Saraswati yang bertajuk “Asih”. 

Namanya Kasih. Sebuah nama yang indah, namun terlalu dingin dengan senyumannya di balik bayang-bayang yang mengerikan. Namun, Asih menjadi nama yang begitu merekat di dalam pikiran. Risa membuka gerbang dialog dengan Asih yang dingin, berbicara dan salineg membuka isi hati. 

Itulah sedikit cuplikan atau gambara cerita yang dituliskan oleh Risa Saraswati di dalam novelnya yang berjudul Asih. Menurutku ide ceritanya simple dan menarik.

Tapi entah kenapa di film Asih ini dengan modal story line yang cukup bagus namun pembawaan ke adegan film terkesan hambar. Menurut saya dialog-dialog yang disampaikan di film tidak menyatu dengan si pemain/tokoh dalam film. Entah si aktor/aktrisnya kurang jago akting atau sang sutradaralah yang tidak bisa mengarahkan ekspresi penjiwaan sang pemain film. Banyak dialog-dialog yang saya fikir masih mengambang, adegan demi adegan yang dilakukan terlihat terburu-buru tanpa transisi yang halus.
Dari segi latar film juga terkesan membosankan. Memang latar film di sini tidak banyak, hanya sekitran rumah, pohon, dan halaman. Tapi setidaknya bisa di akali dengan teknik pengambilan gambar yang variatif. Di sini bukan berarti saya menjelek-jelekan film asih ya, tapi inilah yang saya rasakan. Mungkin dari sisi pengambilan gambar bisa termaafkan, Cuma ya tadi, akting si pemain kurang maksimal dalam mengintrepetasikan dialog-dialog yang ada. Padalah banyak unsur-unsur creepy yang disajikan mulai dari mitos suara anak ayam, mitos suara tiang listrik tengah malam, mitos menaruh gunting di balik bantal dan masih banyak lagi hal creepy deep lainnya. Tapi kenapaa... semua itu terlihat biasa saja di film?
Berdasarkan analisis saya, sang sutradara lebih fokus ke arah “menakut-nakuti” dan sepertinya lupa dengan unsur story yang harus dibangun kuat dalam film. Jujur menurut saya film horror yang bagus adalah film horror yang tidak hanya membuat takut saja tapi film yang bisa dinikmati dari segi story nya juga. Rasa takut yang sesungguhnya itu bukan hanya sekedar teriak histeris di bioskop tapi rasa takut yang mampu terngiang terus walaupun sudah keluar dari bioskop bahkan bisa jadi terngiang terus saat sudah sampai di rumah atau kostan.
Kesimpulannya film ini bisa dikatakan film yang buat orang teriak kaget. Jika kalian ingin mengukur jumpscare ardenalin, kalian WAJIB NONTON FILM ASIH. Tapi jika kalian berekspetasi dengan story line yang kuat dan penuh plot twist, agaknya kalian jangan terllau berharap.
Rating yang bisa saya berikan yaitu 5.7/10. OK itulah review film Asih dari saya, semoga terhibur dan membantu. Sekian. 

Film Asih Buat Satu Bioskop Teriak, "Kaget"

Radarhijau
Tanggal 11 oktober 2018 film danur resmi di tayangkan di bioskop. Film danur ini salah satu film yang tiketnya bisa di pre order loh.. bahkan saya perhatikan di H-3 penayangan , teater teater pemutaran film Asih sudah penuh. Bahkan saya pun hanya mendapatkan tiket nonton di kursi shift K (lumayan dekat dengan layar, tapi untungnya masih nyaman buat menikmati film). Dari hal tersebut terlihat kan antusias warga pencinta film dalam menyaksikan film Asih.

Poster film Asih (2018)
Poster film Asih (2018)


Oh iya sebagai disclimer. Jujur saya belum pernah menonton series danur univers lainnya, so saya tidak bisa membandingkan film asih ini dengan serial film danur lainnya. Jadi Maafkan Saya ya..

Tapi saya penasaran dengan arti “danur” itu sendiri. Setelah saya cari di KBBI dan ternyata arti danur itu adalah air yang keluar dari bangkai (mayat) yang sudah membusuk. Wah serem juga ya.

Ok, back to the review. Hal pertama yang terlintas saat selesai menonton film asih adalah “Ini film bikin orang nggak betah nonton, disetiap detik menonton penonton sudah digiring ke perasaan takut “dikagetkan” dan setelah kaget ya sudah selesai, tak ada hal lain lagi yang membekas”.

Buat kalian pencinta jumpscare, seriusan kalian harus nonton film asih. Di sini sang sutradara om Awi Suryadi melakukan teknik jumpscare begitu closer, seakan akan memang hantu itu ada di samping kanan kiri kita. Jujur saya sendiri banyak melakukan tutup kuping dan menyipitkan mata haha. Intinya sang sutrasara sangat ahli dalam menakut nakuti penonton. Jika ditelaah lagi sebenernya menurut saya hantu yang ada tidak seram sama sekali, tapi itu semua tertutupi oleh teknik jumpscare yang ada. 

Menilik dari story line, setelah saya baca dari berbagai sumber bahwa film asih ini adalah film pre quel dari Danur 1 dan Danur 2. Bahkan kejadiannya 37 tahun yang lalu. Masih sama, film Asih ini juga di adaptasi dari novel karya Risa Saraswati yang bertajuk “Asih”. 

Namanya Kasih. Sebuah nama yang indah, namun terlalu dingin dengan senyumannya di balik bayang-bayang yang mengerikan. Namun, Asih menjadi nama yang begitu merekat di dalam pikiran. Risa membuka gerbang dialog dengan Asih yang dingin, berbicara dan salineg membuka isi hati. 

Itulah sedikit cuplikan atau gambara cerita yang dituliskan oleh Risa Saraswati di dalam novelnya yang berjudul Asih. Menurutku ide ceritanya simple dan menarik.

Tapi entah kenapa di film Asih ini dengan modal story line yang cukup bagus namun pembawaan ke adegan film terkesan hambar. Menurut saya dialog-dialog yang disampaikan di film tidak menyatu dengan si pemain/tokoh dalam film. Entah si aktor/aktrisnya kurang jago akting atau sang sutradaralah yang tidak bisa mengarahkan ekspresi penjiwaan sang pemain film. Banyak dialog-dialog yang saya fikir masih mengambang, adegan demi adegan yang dilakukan terlihat terburu-buru tanpa transisi yang halus.
Dari segi latar film juga terkesan membosankan. Memang latar film di sini tidak banyak, hanya sekitran rumah, pohon, dan halaman. Tapi setidaknya bisa di akali dengan teknik pengambilan gambar yang variatif. Di sini bukan berarti saya menjelek-jelekan film asih ya, tapi inilah yang saya rasakan. Mungkin dari sisi pengambilan gambar bisa termaafkan, Cuma ya tadi, akting si pemain kurang maksimal dalam mengintrepetasikan dialog-dialog yang ada. Padalah banyak unsur-unsur creepy yang disajikan mulai dari mitos suara anak ayam, mitos suara tiang listrik tengah malam, mitos menaruh gunting di balik bantal dan masih banyak lagi hal creepy deep lainnya. Tapi kenapaa... semua itu terlihat biasa saja di film?
Berdasarkan analisis saya, sang sutradara lebih fokus ke arah “menakut-nakuti” dan sepertinya lupa dengan unsur story yang harus dibangun kuat dalam film. Jujur menurut saya film horror yang bagus adalah film horror yang tidak hanya membuat takut saja tapi film yang bisa dinikmati dari segi story nya juga. Rasa takut yang sesungguhnya itu bukan hanya sekedar teriak histeris di bioskop tapi rasa takut yang mampu terngiang terus walaupun sudah keluar dari bioskop bahkan bisa jadi terngiang terus saat sudah sampai di rumah atau kostan.
Kesimpulannya film ini bisa dikatakan film yang buat orang teriak kaget. Jika kalian ingin mengukur jumpscare ardenalin, kalian WAJIB NONTON FILM ASIH. Tapi jika kalian berekspetasi dengan story line yang kuat dan penuh plot twist, agaknya kalian jangan terllau berharap.
Rating yang bisa saya berikan yaitu 5.7/10. OK itulah review film Asih dari saya, semoga terhibur dan membantu. Sekian. 

No comments

Terimakasih telah berkomentar dengan sopan :)