Social Items

Hello Sahabat Movie! Kembali lagi dengan Saya di Radarhijau. Di sini siapa yang suka nonton film horror? *yang walaupun takut tetap suka dengan misteri atau teka-teki filmnya.
Film The Nun
Film The Nun (2018)
Hari Rabu, 5 September 2018 film The Nun resmi rilis di Indonesia. Film ini merupakan salah satu film horror yang saya tunggu-tunggu bahkan semenjak film ini hanya sebatas ‘rumor’. Saya kira film The Nun yang mengisahkan hantu Valak ini hanya sebuah meme atau lelucon menyambut dulu hadirnya film The Conjuring 2 (2016), dan ternyata trailer resmi film The Nun pun hadir menggemparkan. Saya sangat antusias dengan film ini.

Saya berharap film ini disutradarai oleh James Wan, sayangnya di sini James Wan hanya berperan sebagai Pak Produser. Buat kalian yang belum tahu James Wan itu siapa, sedikit mengulas bahwa James Wan adalah sutradara ternama film horror. Saya sangat yakin jika film yang di tangani/ di sutradarai oleh beliau pasti hasilnya di atas rata-rata. Beberapa film yang sukses di direct oleh om James yaitu Saw (2004), Insidius (2011), Insidius: Chapter 2 (2013), Furious 7 (2015) dan The Conjuring 2 (2016). 

Film The Nun di sutradarai oleh Corin Hardy. Data karya film dari Corin Hardy tak begitu banyak yang saya dapat, Corin Hardy pernah mensutradarai film Horror The Hallow (2015). Beda sutradara beda rasa, mungkin itu adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan film The Nun. Banyak sekali pencinta film horror (yang benar-benar cinta dari DNA) merasa sedikit kecewa dengan film The Nun. Terlihat beberapa teman saya yang ‘hobby’ nonton horror meluapkan kekecewaan pada film ini di social media mereka.

Apa sih yang membuat kecewa para netijen? Jujur saya juga sedikit merasa film ini di bawah ekspetasi saya. Tapi ada beberapa hal yang membuat saya bangga dengan Pak Corin di film The Nun ini. Biar lebih jelas lagi mari kita simak reviewnya.
Saya cek di app TIX ID, semua teater yang ada di Kota Bogor hampir semuanya penuh! Sangat sulit mendapatkan hot seat apalagi untuk kursi couple/ groupy. Untung saja saya bukan tipe orang-orang yang mau nonton kalo ada teman sebangkunya, saya lebih prefer untuk menikmati filmnya. Jadi tak masalah buat saya, Alhamdulillah kursi nyempil di lokasi hot seat pun masih ada. Melihat dari ramainya teater bioskop, ini sudah jelas terlihat bahwa Film The Nun ini sangat di tunggu-tunggu sekali. 

Ok sekarang saya mau mereview dari segi story line. Pastinya story line yang disajikan tidak mentah-mentah story line yang mudah ditebak. Jujur saja saya baru tahu alur cerita film ini di ¾ jalannya film. Jadi film ini dari sisi story line masih aman (dibilang plot twist yaa... standar saja, tidak seribet story line film detektif ko kawan hehe). 

Oh iya, film The Nun ini latar waktunya yaitu beberapa tahun sebelum kejadian di film The Conjuring 2. Lebih tepatnya film ini adalah film yang mengisahkan awal mula munculnya si Valak. Saya tebak, karena film The Conjuring 2 laku abis di pasar perfilman akhirnya si James Wan pun berani untuk membuat film prequel Film Conjuring 2 yaitu The Nun. The Nun ini merupakan film yang 90% latar ceritanya berada di gereja tua. Inti storynya yaitu menguak sesuatu yang ‘ganjil’ di gereja tua tersebut. Perjalanan yang penuh debaran dan teka-teki tersusun rapih di setiap scene film ini.

Teknik Jumpscare di Film The Nun patut diacungi jempol! Banyak scene jumpscare yang menurut saya fresh/ baru di film horror ini. Tak hanya monoton sekedar suara sunyi lalu muncul hantu, di film ini banyak kumpulan-kumpulan teknik yang dikombinasi sperti nuansa pencahayaan, scene di depan cermin, sinematografi yang menguatkan rasa kengerian dan lainnya. CGI di film ini pun masih terbilang aman. Pemain-pemain di film ini pun saya sangat menikmati aktingnya. Akting para pemain terlihat natural, tidak berlebihan bahkan saya suka dengan paras-paras the nun (biarawatinya) semua cantik-cantik. Jadi tidak melulu melihat wajah rusak atau seram si valak hehe. Selain itu, unsur komedi di film ini juga ada beberapa yang mampu mengadirkan senyum bergemuruh para penonton di bioskop.

Saya tahu mengapa banyak orang yang kecewa (termasuk saya sendiri) terhadap film The Nun. Sang sutradara terlihat lebih fokus ke teknik jumpscare bahkan terlalu berlebihan. Si Corin Hardy ini lupa menguatkan unsur permainan psikologi penonton. Di film The Conjuring 2 ketika muncul Valak penonton langsung merasakan kengerian bahkan mungkin ada yang sampai terbayang-bayang walau film sudah selesai. Berbeda di film The Nun ini, penonton melihat valak tak lagi merasa ngeri tapi hanya merasa takut atau bahkan hanya ‘kaget’ saja. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Karena di Film The Nun ini terlau banyak scene teror fisik yang dilakukan bukan teror psikis (lebih tepatnya seperti menonton film zombie bukan film horror). Itu merupakan kesalahan yang fatal. Kasus ini sama yang terjadi di film Pengabdi Setan. Di film Pengabdi Setan penonton sempat kecewa dan merasa aneh di scene-scene terakhir film (katanya kaya film The Walking Dead) tapi untungnya di Film Pengabdi Setan, penonton sudah lebih dulu ‘dijejelin’ teror psikis di awal-awal film. Refrensi yang bagus buat kalian tentang film horror yang terror psikisnya kuat yaitu film Hereditary (2018).

Menurut saya, standar film horror sekarang meningkat tajam. Para sutradara harus ektra kerja keras dalam merakit scene-scene yang ada. Sekarang menonton film horror bukan hanya sekedar ingin menikmati bentakan musik-musik keras dan muka-muka rusak si hantu saja, melainkan penonton harus disuguhkan story line yang mampu menguras pemikiran, terror yang natural yang mampu menggoyangkan psikis penonton dan tentunya harus disertai bumbu-bumbu lainnya seperti humor, CGI, sinematogarfi, bahkan sountrack musik yang melekat di pendengaran. "You are my sunshine, my little sunshine...". "Di kesunyian.. Malam ini..."

Rating yang bisa saya kasih buat film ini yaitu 6.8/10. Rating sementara di IMDb untuk Film The Nun yaitu 7.2/10. Tapi film ini sangat recomended ko kawan. Buat kalian penggemar film horror The Conjuring Series WAJIB NONTON! Kalian harus tahu si valak ini lahir dari mana.
Ok sekian review dari saya. Selamat menonton!!

Buat kalian yang mau dapetin tiket Buy One Get One + Voucher nonton senilai Rp. 50.000 GRATIS! Caranya mudah (saya juga nonton pakai cara ini, jadi lebih hemat kawan).
Caranya yaitu kalian pesan tiket online di app TIX ID.

  1. Install App TIX ID di playstore atau App Store kalian.
  2. Daftarkan akun baru kalian
  3. Aktifkan Akun DANA (ada di bagain menu profile)
  4. Masukan Kode Referal TIX ID: YSC3U6
  5. Selamat Anda mendapatkan Voucher nonton senilai Rp. 50.000 GRATIS!
  6. Sekarang lagi ada promo Buy One Get One nonton The Nun
  7. Ada juga promo Buy One get One di hari RABU (Semua jenis Film).
  8. Selamat Mencoba!


[Review Film] Film The Nun (2018) ternyata di luar ekspetasi

Radarhijau
Hello Sahabat Movie! Kembali lagi dengan Saya di Radarhijau. Di sini siapa yang suka nonton film horror? *yang walaupun takut tetap suka dengan misteri atau teka-teki filmnya.
Film The Nun
Film The Nun (2018)
Hari Rabu, 5 September 2018 film The Nun resmi rilis di Indonesia. Film ini merupakan salah satu film horror yang saya tunggu-tunggu bahkan semenjak film ini hanya sebatas ‘rumor’. Saya kira film The Nun yang mengisahkan hantu Valak ini hanya sebuah meme atau lelucon menyambut dulu hadirnya film The Conjuring 2 (2016), dan ternyata trailer resmi film The Nun pun hadir menggemparkan. Saya sangat antusias dengan film ini.

Saya berharap film ini disutradarai oleh James Wan, sayangnya di sini James Wan hanya berperan sebagai Pak Produser. Buat kalian yang belum tahu James Wan itu siapa, sedikit mengulas bahwa James Wan adalah sutradara ternama film horror. Saya sangat yakin jika film yang di tangani/ di sutradarai oleh beliau pasti hasilnya di atas rata-rata. Beberapa film yang sukses di direct oleh om James yaitu Saw (2004), Insidius (2011), Insidius: Chapter 2 (2013), Furious 7 (2015) dan The Conjuring 2 (2016). 

Film The Nun di sutradarai oleh Corin Hardy. Data karya film dari Corin Hardy tak begitu banyak yang saya dapat, Corin Hardy pernah mensutradarai film Horror The Hallow (2015). Beda sutradara beda rasa, mungkin itu adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan film The Nun. Banyak sekali pencinta film horror (yang benar-benar cinta dari DNA) merasa sedikit kecewa dengan film The Nun. Terlihat beberapa teman saya yang ‘hobby’ nonton horror meluapkan kekecewaan pada film ini di social media mereka.

Apa sih yang membuat kecewa para netijen? Jujur saya juga sedikit merasa film ini di bawah ekspetasi saya. Tapi ada beberapa hal yang membuat saya bangga dengan Pak Corin di film The Nun ini. Biar lebih jelas lagi mari kita simak reviewnya.
Saya cek di app TIX ID, semua teater yang ada di Kota Bogor hampir semuanya penuh! Sangat sulit mendapatkan hot seat apalagi untuk kursi couple/ groupy. Untung saja saya bukan tipe orang-orang yang mau nonton kalo ada teman sebangkunya, saya lebih prefer untuk menikmati filmnya. Jadi tak masalah buat saya, Alhamdulillah kursi nyempil di lokasi hot seat pun masih ada. Melihat dari ramainya teater bioskop, ini sudah jelas terlihat bahwa Film The Nun ini sangat di tunggu-tunggu sekali. 

Ok sekarang saya mau mereview dari segi story line. Pastinya story line yang disajikan tidak mentah-mentah story line yang mudah ditebak. Jujur saja saya baru tahu alur cerita film ini di ¾ jalannya film. Jadi film ini dari sisi story line masih aman (dibilang plot twist yaa... standar saja, tidak seribet story line film detektif ko kawan hehe). 

Oh iya, film The Nun ini latar waktunya yaitu beberapa tahun sebelum kejadian di film The Conjuring 2. Lebih tepatnya film ini adalah film yang mengisahkan awal mula munculnya si Valak. Saya tebak, karena film The Conjuring 2 laku abis di pasar perfilman akhirnya si James Wan pun berani untuk membuat film prequel Film Conjuring 2 yaitu The Nun. The Nun ini merupakan film yang 90% latar ceritanya berada di gereja tua. Inti storynya yaitu menguak sesuatu yang ‘ganjil’ di gereja tua tersebut. Perjalanan yang penuh debaran dan teka-teki tersusun rapih di setiap scene film ini.

Teknik Jumpscare di Film The Nun patut diacungi jempol! Banyak scene jumpscare yang menurut saya fresh/ baru di film horror ini. Tak hanya monoton sekedar suara sunyi lalu muncul hantu, di film ini banyak kumpulan-kumpulan teknik yang dikombinasi sperti nuansa pencahayaan, scene di depan cermin, sinematografi yang menguatkan rasa kengerian dan lainnya. CGI di film ini pun masih terbilang aman. Pemain-pemain di film ini pun saya sangat menikmati aktingnya. Akting para pemain terlihat natural, tidak berlebihan bahkan saya suka dengan paras-paras the nun (biarawatinya) semua cantik-cantik. Jadi tidak melulu melihat wajah rusak atau seram si valak hehe. Selain itu, unsur komedi di film ini juga ada beberapa yang mampu mengadirkan senyum bergemuruh para penonton di bioskop.

Saya tahu mengapa banyak orang yang kecewa (termasuk saya sendiri) terhadap film The Nun. Sang sutradara terlihat lebih fokus ke teknik jumpscare bahkan terlalu berlebihan. Si Corin Hardy ini lupa menguatkan unsur permainan psikologi penonton. Di film The Conjuring 2 ketika muncul Valak penonton langsung merasakan kengerian bahkan mungkin ada yang sampai terbayang-bayang walau film sudah selesai. Berbeda di film The Nun ini, penonton melihat valak tak lagi merasa ngeri tapi hanya merasa takut atau bahkan hanya ‘kaget’ saja. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Karena di Film The Nun ini terlau banyak scene teror fisik yang dilakukan bukan teror psikis (lebih tepatnya seperti menonton film zombie bukan film horror). Itu merupakan kesalahan yang fatal. Kasus ini sama yang terjadi di film Pengabdi Setan. Di film Pengabdi Setan penonton sempat kecewa dan merasa aneh di scene-scene terakhir film (katanya kaya film The Walking Dead) tapi untungnya di Film Pengabdi Setan, penonton sudah lebih dulu ‘dijejelin’ teror psikis di awal-awal film. Refrensi yang bagus buat kalian tentang film horror yang terror psikisnya kuat yaitu film Hereditary (2018).

Menurut saya, standar film horror sekarang meningkat tajam. Para sutradara harus ektra kerja keras dalam merakit scene-scene yang ada. Sekarang menonton film horror bukan hanya sekedar ingin menikmati bentakan musik-musik keras dan muka-muka rusak si hantu saja, melainkan penonton harus disuguhkan story line yang mampu menguras pemikiran, terror yang natural yang mampu menggoyangkan psikis penonton dan tentunya harus disertai bumbu-bumbu lainnya seperti humor, CGI, sinematogarfi, bahkan sountrack musik yang melekat di pendengaran. "You are my sunshine, my little sunshine...". "Di kesunyian.. Malam ini..."

Rating yang bisa saya kasih buat film ini yaitu 6.8/10. Rating sementara di IMDb untuk Film The Nun yaitu 7.2/10. Tapi film ini sangat recomended ko kawan. Buat kalian penggemar film horror The Conjuring Series WAJIB NONTON! Kalian harus tahu si valak ini lahir dari mana.
Ok sekian review dari saya. Selamat menonton!!

Buat kalian yang mau dapetin tiket Buy One Get One + Voucher nonton senilai Rp. 50.000 GRATIS! Caranya mudah (saya juga nonton pakai cara ini, jadi lebih hemat kawan).
Caranya yaitu kalian pesan tiket online di app TIX ID.

  1. Install App TIX ID di playstore atau App Store kalian.
  2. Daftarkan akun baru kalian
  3. Aktifkan Akun DANA (ada di bagain menu profile)
  4. Masukan Kode Referal TIX ID: YSC3U6
  5. Selamat Anda mendapatkan Voucher nonton senilai Rp. 50.000 GRATIS!
  6. Sekarang lagi ada promo Buy One Get One nonton The Nun
  7. Ada juga promo Buy One get One di hari RABU (Semua jenis Film).
  8. Selamat Mencoba!


No comments

Terimakasih telah berkomentar dengan sopan :)