Radar Hijau

Welcome!

RADAR HIJAU adalah blog yang berisi informasi seputar dunia lingkungan, tips, Budidaya, dan info lainnya.

FOLLOW

[Review Film] Film The Nun (2018) ternyata di luar ekspetasi

Hello Sahabat Movie! Kembali lagi dengan Saya di Radarhijau. Di sini siapa yang suka nonton film horror? *yang walaupun takut tetap suka dengan misteri atau teka-teki filmnya.
Film The Nun
Film The Nun (2018)
Hari Rabu, 5 September 2018 film The Nun resmi rilis di Indonesia. Film ini merupakan salah satu film horror yang saya tunggu-tunggu bahkan semenjak film ini hanya sebatas ‘rumor’. Saya kira film The Nun yang mengisahkan hantu Valak ini hanya sebuah meme atau lelucon menyambut dulu hadirnya film The Conjuring 2 (2016), dan ternyata trailer resmi film The Nun pun hadir menggemparkan. Saya sangat antusias dengan film ini.

Saya berharap film ini disutradarai oleh James Wan, sayangnya di sini James Wan hanya berperan sebagai Pak Produser. Buat kalian yang belum tahu James Wan itu siapa, sedikit mengulas bahwa James Wan adalah sutradara ternama film horror. Saya sangat yakin jika film yang di tangani/ di sutradarai oleh beliau pasti hasilnya di atas rata-rata. Beberapa film yang sukses di direct oleh om James yaitu Saw (2004), Insidius (2011), Insidius: Chapter 2 (2013), Furious 7 (2015) dan The Conjuring 2 (2016). 

Film The Nun di sutradarai oleh Corin Hardy. Data karya film dari Corin Hardy tak begitu banyak yang saya dapat, Corin Hardy pernah mensutradarai film Horror The Hallow (2015). Beda sutradara beda rasa, mungkin itu adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan film The Nun. Banyak sekali pencinta film horror (yang benar-benar cinta dari DNA) merasa sedikit kecewa dengan film The Nun. Terlihat beberapa teman saya yang ‘hobby’ nonton horror meluapkan kekecewaan pada film ini di social media mereka.

Apa sih yang membuat kecewa para netijen? Jujur saya juga sedikit merasa film ini di bawah ekspetasi saya. Tapi ada beberapa hal yang membuat saya bangga dengan Pak Corin di film The Nun ini. Biar lebih jelas lagi mari kita simak reviewnya.
Saya cek di app TIX ID, semua teater yang ada di Kota Bogor hampir semuanya penuh! Sangat sulit mendapatkan hot seat apalagi untuk kursi couple/ groupy. Untung saja saya bukan tipe orang-orang yang mau nonton kalo ada teman sebangkunya, saya lebih prefer untuk menikmati filmnya. Jadi tak masalah buat saya, Alhamdulillah kursi nyempil di lokasi hot seat pun masih ada. Melihat dari ramainya teater bioskop, ini sudah jelas terlihat bahwa Film The Nun ini sangat di tunggu-tunggu sekali. 

Ok sekarang saya mau mereview dari segi story line. Pastinya story line yang disajikan tidak mentah-mentah story line yang mudah ditebak. Jujur saja saya baru tahu alur cerita film ini di ¾ jalannya film. Jadi film ini dari sisi story line masih aman (dibilang plot twist yaa... standar saja, tidak seribet story line film detektif ko kawan hehe). 

Oh iya, film The Nun ini latar waktunya yaitu beberapa tahun sebelum kejadian di film The Conjuring 2. Lebih tepatnya film ini adalah film yang mengisahkan awal mula munculnya si Valak. Saya tebak, karena film The Conjuring 2 laku abis di pasar perfilman akhirnya si James Wan pun berani untuk membuat film prequel Film Conjuring 2 yaitu The Nun. The Nun ini merupakan film yang 90% latar ceritanya berada di gereja tua. Inti storynya yaitu menguak sesuatu yang ‘ganjil’ di gereja tua tersebut. Perjalanan yang penuh debaran dan teka-teki tersusun rapih di setiap scene film ini.

Teknik Jumpscare di Film The Nun patut diacungi jempol! Banyak scene jumpscare yang menurut saya fresh/ baru di film horror ini. Tak hanya monoton sekedar suara sunyi lalu muncul hantu, di film ini banyak kumpulan-kumpulan teknik yang dikombinasi sperti nuansa pencahayaan, scene di depan cermin, sinematografi yang menguatkan rasa kengerian dan lainnya. CGI di film ini pun masih terbilang aman. Pemain-pemain di film ini pun saya sangat menikmati aktingnya. Akting para pemain terlihat natural, tidak berlebihan bahkan saya suka dengan paras-paras the nun (biarawatinya) semua cantik-cantik. Jadi tidak melulu melihat wajah rusak atau seram si valak hehe. Selain itu, unsur komedi di film ini juga ada beberapa yang mampu mengadirkan senyum bergemuruh para penonton di bioskop.

Saya tahu mengapa banyak orang yang kecewa (termasuk saya sendiri) terhadap film The Nun. Sang sutradara terlihat lebih fokus ke teknik jumpscare bahkan terlalu berlebihan. Si Corin Hardy ini lupa menguatkan unsur permainan psikologi penonton. Di film The Conjuring 2 ketika muncul Valak penonton langsung merasakan kengerian bahkan mungkin ada yang sampai terbayang-bayang walau film sudah selesai. Berbeda di film The Nun ini, penonton melihat valak tak lagi merasa ngeri tapi hanya merasa takut atau bahkan hanya ‘kaget’ saja. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Karena di Film The Nun ini terlau banyak scene teror fisik yang dilakukan bukan teror psikis (lebih tepatnya seperti menonton film zombie bukan film horror). Itu merupakan kesalahan yang fatal. Kasus ini sama yang terjadi di film Pengabdi Setan. Di film Pengabdi Setan penonton sempat kecewa dan merasa aneh di scene-scene terakhir film (katanya kaya film The Walking Dead) tapi untungnya di Film Pengabdi Setan, penonton sudah lebih dulu ‘dijejelin’ teror psikis di awal-awal film. Refrensi yang bagus buat kalian tentang film horror yang terror psikisnya kuat yaitu film Hereditary (2018).

Menurut saya, standar film horror sekarang meningkat tajam. Para sutradara harus ektra kerja keras dalam merakit scene-scene yang ada. Sekarang menonton film horror bukan hanya sekedar ingin menikmati bentakan musik-musik keras dan muka-muka rusak si hantu saja, melainkan penonton harus disuguhkan story line yang mampu menguras pemikiran, terror yang natural yang mampu menggoyangkan psikis penonton dan tentunya harus disertai bumbu-bumbu lainnya seperti humor, CGI, sinematogarfi, bahkan sountrack musik yang melekat di pendengaran. "You are my sunshine, my little sunshine...". "Di kesunyian.. Malam ini..."

Rating yang bisa saya kasih buat film ini yaitu 6.8/10. Rating sementara di IMDb untuk Film The Nun yaitu 7.2/10. Tapi film ini sangat recomended ko kawan. Buat kalian penggemar film horror The Conjuring Series WAJIB NONTON! Kalian harus tahu si valak ini lahir dari mana.
Ok sekian review dari saya. Selamat menonton!!

Buat kalian yang mau dapetin tiket Buy One Get One + Voucher nonton senilai Rp. 50.000 GRATIS! Caranya mudah (saya juga nonton pakai cara ini, jadi lebih hemat kawan).
Caranya yaitu kalian pesan tiket online di app TIX ID.

  1. Install App TIX ID di playstore atau App Store kalian.
  2. Daftarkan akun baru kalian
  3. Aktifkan Akun DANA (ada di bagain menu profile)
  4. Masukan Kode Referal TIX ID: YSC3U6
  5. Selamat Anda mendapatkan Voucher nonton senilai Rp. 50.000 GRATIS!
  6. Sekarang lagi ada promo Buy One Get One nonton The Nun
  7. Ada juga promo Buy One get One di hari RABU (Semua jenis Film).
  8. Selamat Mencoba!


Ekstensi S1 dari D3 itu nyata!

Dari D3 ke S3 apakah cuman mimpi?

Hello sahabat hijau! Kangen nih pengen cerita-cerita, mumpung lagi gabut belum mulai aktif kuliah lagi. Curahan hati ini terkhusus buat kalian yang masih ragu dengan status kuliah di D3. Buat kalian yang masih beranggapan bahwa kuliah D3 itu tidak ada harapan lagi. Buat kalian yang menyesal kuliah di D3. Buat kalain yang selalu diperolok oleh orang-orang sekeliling "loh? kenapa nggak kuliah S1 sekalian?". Itinya potingan ini buat kalian yang merasa 'rendah' kuliah di D3 dibandingkan dengan S1. Kalian tepat sekali berada di postingan ini. Semoga setelah kalian membaca postingan ini, sedikit tumbuh kepercayaan diri dan titik terang yang mengantarkan kalian ke gerbang kesuksesan. Aamiin.
Logo IPB dan Itenas
Logo IPB dan Itenas

Status saya sekarang adalah lulusan baru dari program diploma (D3). Alhamdulillah saya lulus tepat waktu mengikuti wisuda tahap satu. Tepatnya pada tanggal 28 Agustus 2018 Saya resmi di wisuda di Graha Widya Wisuda (GWW) IPB.

3 tahun yang lalu

Sekarang saya mau ajak kalian mundur ke era 3 tahun yang lalu, tepatnya saat saya masih anget lulus dari SMA Negeri 1 Cikarang Pusat. Saya dulu mengikuti program akselerasi (saya SMA hanya 2 tahun). Pasti kalian beranggapan bahwa 'wah enak ya.. bisa sekolah SMA hanya 2 tahun saja, cepet kuliah dong'. Jujur memang sangat menguntungkan, saya bisa mengemat waktu saya satu tahun. Tapi, banyak sekali dampak negatif yang saya terima. Pertama yaitu saya tidak mempunyai waktu bermain yang banyak dibandingkan dengan teman-teman reguler. Saat di kelas saya dituntut agar belajar lebih ekstra dan cepat menangkap materi pelajaran yang ada. Hasilnya saya harus mengejar itu semua dengan cara belajar lebih ekstra, bahkan di tengah malam sampai sepertiga malam saya masih sibuk dengan buku-buku pelajaran. Segala usaha yang saya lakukan tidak semuanya berjalan suskes, tetap saja ada mata pelajaran yang menurut saya susah untuk dipelajari dengan waktu cepat. Terkhusus saya sangat lemah sekali di mata pelajaran matematika.

Singkat cerita, akhirnya saya lulus juga. Saat itu ruang bimbingan konseling (BK) selalu ramai dipenuhi siswa kelas 12. Semua siswa kelas 12 berburu informasi pendaftaran kuliah (termasuk saya pribadi). Selain saya mengikuti pendaftaran kuliah lewat Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) saya juga mengikuti pendaftran lainnya yaitu mendaftar di program diploma IPB, dan tes SBMPTN serta mengikuti simak UI. Oh iya sebelum membaca lebih lanjut, kalian bisa baca posingan saya sebelumnya:


Pengumuman penerimaan mahasiswa baru D3 IPB pun akhirnya keluar, saya termasuk di dalam daftar siwa yang diterima. Jujur saya waktu mendengar pengumuman tersebut ekspresi saya biasa saja, mungkin karena awal saya mendaftar di D3 IPB hanya sebagai 'cadangan' (duuh... tidak mensyukuri sekali... jgn ditiru ya kawan). 

Minggu selanjutnya merupakan pengumuman SNMPTN. Ini merupakan hal yang paling 'deg-deg-an' asli. Sedih sih melihat warna merah di website hasil pengumuman SNMPTN. Saya mencoba untuk ikhlas. Beberapa hari kemudian ada jalur SBMPTN, awalnya saya sudah malas ikut tes-tes seperti ini. Tapi saya penasaran. Akhirnya saya ikut SBMPTN (tanpa belajar! hanya ingin tahu SBMPTN yang sesungguhnya itu seperti apa, kocak banget emang). Dan hasil SBMPTN pasti gagal, orang saya sendiri tidak belajar dan asal ikut saja.

Beberapa hari berlalu, akhirnya saya mantapkan niat untuk berkuliah di IPB (D3). Setelah beres mengurus administrasi, akhirnya tibalah masa pengenalan kampus.

Masa-masa dimana pertanyaan 'Kuliah dimana?' bermunculan. Sempat kesal dengan orang-orang yang selalu bilang 'kenapa harus kuliah di D3? sayang banget.. kenapa nggak S1 sekalian?'. Awal saya coba jelaskan dengan baik-baik dan sistematik wkk. Tapi lama-lama cape juga, akhirnya saya hanya balas pertanyaan tu dengan senyuman. Di dalam hati saya selalu bilang 'saya janji akan kuliah lebih tinggi dari S1'. Dendam membara banget emang! wkk. Tapi itu dendam positif ko kawan, sebagai pemicu dalam diri bahwa kuiah D3 itu bukan akhir dari segalanya. Semua orang berhak mempunyai mimpi kuliah lebih tinggi.

Buat kalian yang beranggapan bahwa kuliah D3 itu kan memang dirancang untuk mahasiswa yang siap terjun di dunia kerja. Itu betul sekali. Tapi semua orang bebas memilih jalan hidupnya masing-masing. Tidak ada yang melarang kok buat kalian yang lulusan D3 ingin lanjut S1.

Berapa lama masa kuliah ekstensi S1 dari D3?

Pertanyaan ini sering sekali muncul. Jawabannya adalah relatif. Bisa 1.5 tahun, 2 tahun, 2.5 tahun, bahkan 3 tahun. Lamanya kuliah ekstensi S1 dari D3 ditentukan oleh hasil ekivalensi mata kuliah, kebijakan masing-masing perguruan tinggi dan pastinya ditentukan oleh rajin atau tidaknya kita pribadi.

Saya pribadi melanjutkan kuliah ekstensi S1 di perguruan tinggi swasta yang ada di Kota Bandung (Institus Teknologi Nasional).  Saya mengambil program studi Teknik Lingkungan. Nah, buat kalian lulusan D3 IPB Teknik dan Manajemen Lingkungan masih bisa melakukan ekstend ke S1 Teknik Lingkungan.

Hasil ekivalensi mata kuliah/ transfer mata kuliah dari kampus D3 IPB ke kampus Itenas (Institus Teknologi Nasional) dari 114 SKS hanya 49 SKS yang masuk ke kampus Itenas, dengan kata lain saya harus menyelesaikan 95 SKS lagi di Itenas karena total SKS Teknik Lingkungan di Itenas yaitu 144 SKS.

Sedih banget memang, 114 SKS hanya 49 SKS yang diterima. Kok bisa!? Ya bisa atuh kawan. Berikut alasan mengapa hasil ekivalensi D3 IPB Teknik dan Manajemen Lingkungan sedikit sekali.
1. Karena program pendidikan awal saya ada kata 'manajemen' so.. saya di IPB selain belajar teknik, saya juga belajar ilmu manajemen lingkungan. Sedangkan di Itenas hanya 'teknik' lingkungan saja. Otomatis mata kuliah manajmen tidak diikutsertakan karena di Teknik Lingkungan Itenas tidak mempelajari matakuliah manajemen.
2. Jumlah SKS dan sistem SKS. Di kampus D3 IPB SKS lebih dititik beratkan ke praktikum/ responsi bukan ke kuliah. Rata-rata jam kuliah di D3 IPB hanya 1 jam matakuliah sedangkan praktikumnya bisa sampai 3 jam (Ini beralasan karena D3 memang dirancang untuk mahasiswa yang siap bekerja di alpangan). Berbanding terbalik dengan program pendidikan sarjana (S1) jam kuliahnya lebih banyak. (Ini dirancang untuk mahasiswa sarjana lebih fokus ke analisa).
Nah kurang lebihnya seperti itu. Jelas kontras perbedaan sistem kuliah di D3 dan S1.

Saya sedniri tidak merasa menyesal kuliah di D3 terlebih dahulu kemudian lanjut ekstensi di S1. Memang jika dikalkulasikan masa studi saya untuk mendapatkan gelar S1 sekitar 5 Tahun. Tapi itu semua terbayar/ tertutupi karena saya dulu pernah mengambil kelas akselerasi waktu SMA (Ternyata jalan Allah itu indah). Kelebihan selanjutnya yaitu saya setidaknya sudah tahu pahit getirnya dunia perkuliahan, bahkan lebih sadis (di D3 IPB sistem belajarnya padat sekali, tugas tiada henti bagai air terjun yang mengalir). Selain itu, ketika saya lulus S1 saya mempunyai dua ijazah, ijazah D3 dan S1. Setidaknya selain saya mempunyai status sarjana saya juga mempunyai keahlian kerja lapang yang mumpuni karena saya adalah alumni lulusan program diploma. Jujur banyak sekali berkah yang saya dapat. Tiada henti untuk selalu bersyukur. Buat sahabat hijau, jangan patah semangat!! Jalan selalu ada, Allah itu selalu tahu jalan terbaik untuk kita. Semangat!!

Tag: Ekstensi D3 IPB ke S1, Lama studi ekstensi S1 dari D3, Sistem belajar S1 dan D3, Hasil ekivalensi matakuliah, Itenas, IPB, Bandung, Bogor.

[No Spoiler] Review Film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Helo Sahabat Movie. Siapa yang tak kenal dengan pendekar Wiro Sableng? Hari ini saya akan mereview film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 besutan rumah produksi Lifelike Pictures yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko. Film ini perdana tayang di layar bioskop pada tanggal 30 Agustus 2018.
Film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
sumber gambar: quick corp

Saya ingat betul dulu saat saya masih berumur 6 tahun an atau sekitar tahun 2003-2005 acara TV atau Film bernuansa kolosal sangat populer mulai dari film misteri gunung berapi (mak lampir), angling darma, Jaka Tingkir dan termasuk series Wiro Sableng.

Buat kamu yang ingin bernostalgia dengan film-film kolosal Indonesia, tepat sekali menonton film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (cukup panjang ya.. judul filmnya ehe..). Saya pribadi sangat menunggu tayangnya film Wiro Sableng, selain saya suka dengan film bergenre kolosal satu hal yang membuat saya sangat penasaran yaitu film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 ini juga bekerja sama dengan rumah produksi Hollywood 20th Century Fox!! Bagaimana hasil filmnya ya? Apakah disuguhkan CGI? Atau efek-efek keren lainnya? Penasaran? Yuk simak reviewnya!

30 Agustus 2018 Saya dan teman saya menonton film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 di CGV Paris Van Java.

Pertama saya akan mereview dari segi jalan cerita. Jujur saya tidak terlau hafal dengan jalan cerita Wiro Sableng. Dulu waktu kecil hanya sekedar menoton saja tanpa memperhatikan unsur cerita lebih dalam. Seri Wiro Sableng meruapkan adaptasi dari Novel Wiro Sableng karya Bastian Tito. Jalan cerita film ini sangat simple karena alur ceritanya merupakan alur maju. Tidak ada yang spesial dari segi story line. Point besar yang sangat recommended dari film ini yaitu adegan-adegan joke/komedinya. Gila kocak banget, beberapa kali bioskop bergemuruh tertawa lepas. Ini film ngilangin stress banget.

Kedua dari segi sinematografinya. Sinematografi dari film Wiro Sableng ini lumayan memanjakan mata (walaupun ya.. dibilang sempurna ini masih belum membuat saya WAW keren pengambilan gambarnya) Jujur terakhir yang membuat saya WAW dengan sinematografi filmnya yaitu Film Blade Runner dan Film Sebelum Iblis Menjemput (buat kamu sineas muda, coba tonton film ini banyak teknik sinematografi yang keren).

Segi set lokasi film, saya acungkan jempol karena menurutku sangat sulit mencari set yang benar-benar mewakili zaman kolosal. Mulai dari barang-barang, pakaian, dan lokasi semuanya terlihat natural. Saya belum tahu pasti set lokasinya dimana, tapi saya perhatikan mirip-mirip di kaki gunung.
Melihat dari segi pemain. Film ini diramaikan oleh aktor dan aktris Indonesia yang terbilang sudah memiliki nama di dunia hiburan. Deretan pemain film Wiro Sableng yaitu Vino G Bastian yang memerankan Wiro Sableng (dan ternyata Vino G Bastian merupakan anak kandung dari sang penulis novel Wiro Sableng yaitu Bastian Tito), Marsya Timoty sebagai Bidadari Angin Timur (merupkan istri asli dari Vino G bastian), Sherina Munaf sebagai Anggini, Ruth Marini sebagai Sinto Gendeng, dan masih banyak lagi (kalian bisa searching sendiri hehe..). Akting Vino G Bastian memang tak bisa diragukan lagi. Saya pikir akting Vino di film ini sangat natural. Vino memang cocok memainkan peran yang konyol dan slengean seperti karakter Wiro Sableng ini.
Nah sekarang yang ditunggu-tunggu ini, yaitu CGI di film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Saat trailer ke-2 film Wiro ini di publikasikan saya sempat menaruh kecewa melihat CGI nya, terkhusus di bagian adegan di atas pohon. Kemudian beberapa bulan kemudian muncul trailer ke-3 di sini kekecewaan saya sedikit terobati karena adegan di atas pohon tersebut sedikit lebih smooth walau tidak senyata CGI film hollywood lainnya. Dan apakah CGI nya akan diperbaiki saat final filmnya? Setelah saya menonton, tetap saja CGI di adegan itu masih kurang memuaskan. Tapi CGI di adegan-adegan lainnya saya acungkan jempol!!! Terlebih CGI untuk kekuatan magis-magis nya itu terlihat real, dan CGI api juga lumayan. Cuman kekurangannya ya itu tadi adegan CGI green Screenya masih Hmmmm...mm... (nisa sabyan 10 jam). Tapi overall ini lumayan ko teman-teman, setidaknya tak sekasar naga yang ada di Ind*siar.

sumber gambar: kapanlagi com


Kesimpulannya film ini reccommended! Saya kasih rating 7.2/10 (ini menurut saya ya). Rating sementara film Wiro Sableng dari IMDb yaitu 8/10. Ayo buruan tonton film ini, buat kamu yang rindu nuansa dahulu dan ingin melepas penat cocok banget! Ayo kuy bantu bangun perfilman Indonesia. Oh iya setelah film selesai, jangan pulang dulu!! Ada Post Credit Scene nya, dan post credit scene ini merupakan kunci keberlanjutan film Wiro Sableng. Ok itulah review film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Semoga bermanfaat.

Buat kalian yang mau dapetin tiket Buy One Get One + Voucher nonton senilai Rp. 50.000 GRATIS! Caranya mudah (saya juga nonton pakai cara ini, jadi lebih hemat kawan).
Caranya yaitu kalian pesan tiket online di app TIX ID.

  1. Install App TIX ID di playstore atau App Store kalian.
  2. Daftarkan akun baru kalian
  3. Aktifkan Akun DANA (ada di bagain menu profile)
  4. Masukan Kode Referal TIX ID: YSC3U6
  5. Selamat Anda mendapatkan Voucher nonton senilai Rp. 50.000 GRATIS!
  6. Sekarang lagi ada promo Buy One Get One nonton The Nun
  7. Ada juga promo Buy One get One di hari RABU (Semua jenis Film).
  8. Selamat Mencoba!

Tag: #wirosableng2018 #wiro #sableng #reviewfilm #vinogbastian #212 #filmkolosal

Tips Memilih Kampus dan Jurusan Kuliah

Assalamualikum sahabat hijau.
Hari ini saya akan memposting TIPS MENENTUKAN JURUSAN DAN TEMPAT KULIAHBuat kalian yang sampai detik ini masih bingung mau kuliah di jurusan apa dan dimana, kalian tepat sekali jika kalain membaca artikel ini. Selamat menyimak semoga mendapatkan sebuah pencerahan yang bermanfaat.

Beberapa Logo PTN dan PTS di IndonesiA
Beberapa Logo PTN dan PTS di Indonesia
Mau Daftar Kuliah Dimana???

Coba yang saat ini masih bingung mau kuliah dimana angkat tangan!!
Wajar ko, memang gampang - gampang susah saat kita harus menentukan tempat kuliah. Saat-saat ini sungguh sangat ramai sekali anak-anak SMA/sederajat membicarakan tentang kuliah. Mau kuliah dinama?? Fakultas apa?? mau masuk jalur apa? dan bla.. bla..
Buat kalian yang masih bingung dengan hal itu, saya akan mencoba memberikan beberapa Tips untuk kalian agar mudah dalam memilih Jurusan kuliah.

1. Kenali diri Pribadi, "Saya itu sebenernya suka apa si?"

Bagaimana cara mengenali minat dan bakat kita?? Sebenernya secara tidak langsung kalian sudah tau itu. Coba perhatikan diri sendiri, sahabat sekalian dalam keseharian suka melakukan hal apa saja??

Contohnya seperti ini. Saya dulu saat SMA waktu diberikan tugas untuk membuat denah lokasi Bang Sampah. Saat itu saya langsung explore ke internet cari program cara membuat peta lokasi. Bahkan dalam bentuk 3D. Awalnya iseng-iseng namun lama kelamaan semakin suka dengan yang namanya pemetaan bahkan membuat bangunan rumah 3D sekalipun. Nah itulah yang dinamakan "Passion" tujuan hati. 

Bisa saja kalian seperti saya, minatnya menjadi Arsitek. Masih banyak lagi kok contoh kasus-kasus lainnya. Nah coba deh mulai sekarang kenali diri kita pribadi.

Kalo kita udah tau passion kita apa. Saat kuliah nanti kita akan menjalankan kuliah dengan sangat mudah dan nyaman.
"Kunci kesuksesan adalah keikhlasan dan kenyamanan"
Jika kita sudah ikhlas dan nyaman dalam melaksanakan kuliah Insyaa Allah nanti pas kuliah tugas-tugas dari dosen yang banyak seabrek akan terselesaikan dengan mudah. Otomatis hasil IPK pun memuaskan (Aamiin). Setelah lulus kuliah pun kita akan mendapat kerja yang sesuai dengan minat dan bakat kita. Jika sudah merasa nyaman dengan apa yang kita lakukan, kata "sukses" pun perlahan akan mengikuti kita dengan sendirinya.

Prinsip saya adalah "Kejarlah Apa yang Kita Minati, Kesuksesan akan datang dengan Sendirinya"

2. Jangan Hanya Mementingkan Prospek kerja dan Besarnya Gaji yang didapat.

Pastinya setiap calon mahasiswa hal pertama yang dilihat saat akan menentukan jurusan kuliah adalah Prospek Kerja dan Besarnya Gaji yang kelak akan didapat. Tapi apakah semua itu akan menjamin bahwa kita akan kerja 100% di bidang tersebut?? Sahabatku.. Persaingan kerja saat ini sudah sangat ketat sekali.
Ok, seandainya kita dapet pekerjaan yang kita inginkan dengan gaji yang sangat berlimpah. Apakah kita nyaman dengan pekerjaan yang kita pilih??
Bukanya tujuan hidup itu Bahagia?? ok.. kita akan bahagia jika kita dapat memenuhi kebutuhan kita dan kebutuhan kita akan terpenuhi dengan adanya uang yang mencukupi tapi apakah hanya dengan uang kita sudah cukup bahagia?? itu relatif ya sob.. mungkin jawaban kalian beraneka ragam.
Tapi seperti yang sebelumnya saya ucap.
"Kejarlah Apa yang Kita Minati, Kesuksesan akan datang dengan Sendirinya"
Jika kita sudah dapat kerja yang sesuai dengan minat kita,  kerja sudah seperti hobby. Perlu kita akui mendapat gaji yang besar itu tidaklah mudah dan instan. Butuh kerja keras dan kesabaran. Intinya kita harus Ikhlas dan Nyaman. Masalah gaji yang berlimbah akan mengikuti dengan sendiri.

Update!
Setelah saya lulus D3 di IPB, prinsip saya perlahan berubah haluan. Berawal dari seorang idealis menjadi seorang yang idealis+realis. Ini merupakan postingan saya waktu saya SMA (lebih tepatnya transisi ke masa kuliah). Dan ini merupakan update postingan saat saya sudah lulus kuliah.

Sebenarnya sah-sah saja jika kita mempunyai planing yang jelas (tujuan hidup, mau jadi apa kita di masa depan) namun setelah saya melewati dunia "dewasa" pemikiran idealis seperti itu perlahan berubah menjadi lebih fleksible tak perlu kaku alias tak mengapa dibarengi dengan sikap realis. Sikap realis itu seperti apa? sikap realis adalah sikap kita untuk mengambil jalan sesuai dengan kenyataan yang sedang terjadi.

Contoh kasus. Si A merupakan sarjana lulusan teknik sipil. Setelah lulus Si A mendapat tawaran bekerja di Bank swasta dengan gaji yang lumayan besar. Si A bingung, di sisi lain ia ingin sekali membuka usaha konsultan sendiri, namun modal yang dibutuhkan untuk membuka usaha konsultan sendiri tidaklah kecil. Menjadi konsultan terkenal merupakan cita-cita Si A dari dulu. Hingga akhirnya Si A memutuskan untuk menerima tawaran Bank Swasta tersebut. Saat bekerja di Bank, Si A bertujuan untuk mengumpulkan modal terlebih dahulu dan berusaha mencari pengalaman dunia kerja terlebih dahulu. Setelah Si A sudah tau seluk beluk dunia usaha/kerja dan pastinya sudah memiliki modal barulah Si A memutuskan untuk resign dan merintis usaha konsultannya tersebut.

Tapi itu semua tergantung prinsip kita masing-masing ya sob, kalaupun kita berbeda pendapat itu sangatlah wajar, yang terpenting adalah ikhlas dan tulus menjalani semua pilihan kita.

3. Satukan Tujuan Hati dengan Pendapat Orang Tua

Jika kita mendapat masalah terhadap adanya perbedaan pendapat dengan orang tua bagaimana solusi mengatasinya??

Pertama, sering-seringlah mengadakan rapat khusus dengan keluarga/orangtua.
- Coba bicarakan minat bakat kamu sebenernya.
- Yakinkan dan satukan tujuan kalian dengan orang tua.
- Bahas satu persatu kelebihan jika kalian kuliah di bidang yang kalian minati
- Dan jangan lupa kita juga harus membahas tentang kekurangan/masalah jika kita tetep memilih kuliah dengan tujuan kita sendiri. Baru kemudian didiskusikan masalah tersebut bersama-sama.

Kedua, Buktikan bahwa minat kita itu tidak hanya setengah-setengah atau hanya sekedar minat seru-seruan saja. Bagaimana cara membuktikan kesungguhan kita? Tingkatkan nilai mata pelajaran yang berhubungan dengan minat kita, ikuti perlombaan-perlombaan yang berhubungan dengan minat kita. Sukur Alhamdulillah jika dapat juara agar orangtua tambah bangga dan percaya.

Ketiga, Cari Informasi sebanyak - banyaknya tentang minat bakat kita. Contoh kita mau kuliah di bidang Arsitek dan Teknik Lingkungan. Cari info-info perguruan tinggi yang membuka program studi tersebut. Cari info-info prospek kerjanya apa aja. dll. Pasti dengan banyaknya informasi yang kita sajikan dan jelaskan ke orangtua, orangtua pun sedikit demi sedikit mulai mengerti dan setuju dengan apa yang kita mau.

4. Jangan Gengsi Memilih Tempat Kuliah

Sekarang saya kuliah di Institut Pertanian Bogor Program Diploma Program Keahlian Teknik dan Manajemen Lingkungan. Jujur waktu saya SMA tidak ada niat sedikitpun kuliah di D3. Ekspetasi saya, saya akan menjadi sarjana S1. Tapi Allah berkehendak lain.
Sekedar sharing, saya akan paparkan track record proses kerja keras saya dalam meraih Perguruan Tinggi Idaman.

1. SNMPTN
Pilihan 1) Sistem Informasi (UI) GAGAL
Pilihan 2) Arsitek Landscape (IPB) GAGAL
Pilihan 3) Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (IPB) GAGAL

2. USMI D3 IPB
Pilihan 1) Teknik dan Manajemen Lingkungan BERHASIL
Pilihan 2) Komunikasi GAGAL
Pilihan 3) Informatika GAGAL

3. SBMPTN
Pilihan 1) Teknik Industri (ITB Kampus Ganesa) GAGAL
Pilihan 2) Teknik Industri (ITB Kampus Jatinangor) GAGAL
Pilihan 3) Arsitek (ITB Kampus Ganesa) GAGAL

4. SIMAK UI

Pilihan 1) Sistem Informasi GAGAL



Entah apakah salah atau benar strategi saya dalam menentukan pilihan - pilihan jurusan dan kampus. Tapi intinya selagi kita merasa yakin dan bisa kenapa tidak?? Tapi sayangnya saya hanya bisa meraih PTN di jalur D3 itupun saya sangat bersyukur sekali. Saran dari saya, jika kalian akan menentukan pilihan-pilihan, cobalah pilih pilihan yang sesuai dengan minat dan kemampuan kalian masing-masing. Faktor doa dan keberuntungan pun sangat besar loh sob... bukan berarti orang pinter terjamin akan masuk ke perguruan tinggi idaman.

Balik lagi ke masalah Jangan Gengsi memilih tempat kuliah. Yang perlu kalian ingat
"Kalian harus merasakan betapa sulitnya mendapatkan Perguruan Tinggi Idaman apalagi Negeri"

Saat ini saya akan membahas dua point yang biasanya menjadi problema diantara calon mahasiswa, yaitu:

1. Antara PTS (Perguruan Tinggi Swasta) dan PTN (Perguruan Tinggi Negeri)
Mau PTS atau PTN menurut saya sama aja, bahkan ada juga kok PTS-PTS yang kulitasnya setara bahkan lebih dari PTN. Mau sebagus apapun akreditasi Perguruan Tinggi jika kita belajarnya tidak serius tetep saja tidak menjamin kita akan sukses kan?? So buat kalian yang mungkin masuk PTS jangan berkecil hati. Kesuksesan seseorang bukan dilihat darimana asal kita kuliah. Tapi ketekunan dan usaha keraslah yang menjadikan kita semua sukses.

2. Antara D3 dan S1
Ini nih... Masalah juga nih. Sempet saya "kesal" jika mendengar kata "Ko kuliahnya D3? kenapa gk S1 sekalian aja?" Saya juga sangat ingin sekali kuliah S1 tapi apa boleh buat Allah sudah memberikan jalan jika saya harus kuliah di D3. Semua itu ada proses dan jalannya masing-masing. Saya sebagai manusia hanya bisa berusaha, dan inilah yang Allah kasih buat saya. Buat kalian-kaliansahabat hijauku berikut saya akan paparkan beberapa kelebihan kuliah di D3.

Kelebihan Kuliah di D3
1. Hanya membutuhkan 3 tahun untuk lulus.
2. Prospek mendapatkan pekerjaan lebih luas dan cepat dibandingkan dengan S1
3. Kemampuan di dalam praktek lapangan sangat mumpuni
4. Bisa dilanjutkan ke jenjang D4 ataupun S1
Jadi mulai sekarang cobalah membuka fikiran terhadap D3 yang sebenarnya.

Tambahan:
Berikut adalah DAFTAR JURUSAN di PTN

Update!
Seperti yang diceritakan sebelumnya, saya merupakan lulusan D3 IPB (kampus PTN). Setelah saya lulus akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan studi saya ke jenjang yang lebih tinggi. Saya melanjutkan ke program pendidikan Teknik Lingkungan di Institut Teknologi Nasional (kampus PTS di Bandung). Pertanyaannya, kenapa memilih swasta?. Salah satu alasan penting saya memilih kuliah di ITENAS yaitu akreditasi jurusan Teknik Lingkungan sudah kategori A. Kedua adalah jurusan tersebut masih serumpun dengan jurusan saya yang dulu. Sayang sekali padahal sudah lulusan negeri, kenapa dilanjut kuliah? kenapa tidak langsung bekerja saja? Jujur saja saya merasa ilmu yang saya dapat selama kuliah 3 tahun di IPB masih jauh sekali (entah kenapa saya masih haus akan ilmu pengetahuan 😁). Terlebih saya ingin mewujudkan cita-cita saya yaitu dari D3 menuju S3Aamiin.

Ok mungkin itu saja postingan yang kali ini saya bisa sampaikan. Semoga membantu. Terimakasih. Salam Hijau!!

Wassalamualaikum...



Sumber: Pengalaman Pribadi

Review Film 212 The Power of Love [Sebuah Pesan Damai]

Assalamulaikum w. w.
Halo sahabat Hijau, postingan kali ini saya akan mereview film "212 - The Power of Love" karya sang sutradara Jastis Arimba. Di sini saya akan mereview film ini sejujur-jujurnya. Ok langsung saja.

review film 212 The power of Love
#review212

Jutaan umat Islam dari seluruh Indonesia, Jumat 2 Desember 2016 pagi, berkumpul di Monas, Bundaran HI, dan beberapa titik lainnya di Jakarta. Salah satu aspirasi yang dibawa dalam aksi ini adalah, menuntut aparat hukum untuk menangkap dan menahan salah satu pemimpin daerah Kota Jakarta dalam kasus penistaan Alquran dan agama Islam.

Berdasarkan informasi dari sastrahelvy.com menjelaskan bahwa Jastis Arimba merupakan seseorang yang selama ini lebih dikenal luas dalam karya film dokumenter. Selain Jastis Arimba, sebagai Produser terdapat nama Oki Setiana Dewi, Imam Saptono, dan Co Produser  Ustadz Erick Yusuf.  Skenario ditulis oleh Ali Eounia. Cerita film mengadaptasi kisah nyata perjalanan seseorang yang awalnya skeptis (kurang percaya/ragu) terhadap Islam namun harus terjebak dalam sebuah perjalanan menuju aksi 212 di Monas.

Di sela kesibukan saya mengurus tugas akhir untuk sidang, saya sempatkan untuk menonton film ini. Di pemutaran perdana film ini sungguh luarbiasa, tak kalah dengan euforia film Avenger. Bahkan saya sempat dengar ada satu penonton yang mengatakan dia sampai menjelajah dari satu bioskop ke bioskop lainnya hanya untuk membeli tiket nonton film 212 ini dikarenakan di beberapa bioskop tiket sudah terjual habis.  Saya menonton film ini di saat jam malam yaitu pukul 11 malam dan selesai sekitar jam 1 malam. Walaupun di jam malam, semua kursi teater terlihat terisi semua oleh penonton
.
Satu hal yang unik dari film ini adalah mengenai tag line nya yaitu #putihkanbioskop. Saya pun sebelum berangkat menonton, saya sempatkan mengenakan kemeja putih. Benar saja, mayoritas penonton banyak yang menggunakan busana bernuansa putih. Di sini saya akui, bentuk pemasaran film ini sangat unik dan berhasil.

Film 212 The Power of Love merupakan film religi yang mengisahkan peristiwa aksi 212 yang dibalut dari sudut pandang sebuah keluarga asal Ciamis. Film ini sangat cocok ditonton bersama keluarga. Banyak seklai pesan moral kekeluargaan yang ditampilkan.

Film ini mengisahkan seorang jurnalis bernama Rahmat (Fauzi Baadila), rahmat merupakan aset berharga yang dimiliki oleh majalah republika. Selain terkenal hebat sebagai jurnalis terbaik lulusan Harvard, Tulisan-tulisan rahmat dikenal sangat kritis bahkan ke hal-hal yang sensitif seperti agama dan politik. Sifat rahmat yang terkesan skeptis terhadap agama, khususnya Agama Islam sangat berbanding terbalik dengan sikap ayahnya. Ayahnya merupakan kiayi di Ciamis. 

Hingga suatu ketika sang Ayah ingin mengikuti aksi 212 namun Rahmat berusaha keras melarang ayahnya untuk melakukan aksi tersebut. Selain rahmat merasa kasian dan khawatir terhdap kondisi ayahnya yg sudah tua Rahmat juga beranggapan bahwa aksi tersebut hanya dimanfaatkan oleh pihak tertentu demi kepentingan politik semata.

Di sini saya tidak akan menceritakan lebih lanjut tentang konflik yang membuat Rahmat dan ayahnya bertentangan, silakan teman-teman sendirilah yang mengetahuinya saat menonton di Bioskop.
Menurut saya film ini termasuk kategori film universal, semua kalangan bisa menonton film ini, baik anak kecil, dewasa, yang beragama islam bahkan yang non muslim pun bisa menonton film ini.

Yakin?.. YAKIN LAH!!

Hal yang saya cemaskan sebelum menonton film ini adalah timbulnya unsur SARA, yap betul sekali. Mengingat bahwa ide utama film ini menceritakan kisah aksi bela Islam pada tanggal 2 Desember 2016 lalu. Tapi Alhamdulillah.. setelah menonton film ini sampai selesai ternyata di dalam film ini banyak diselipkan beberapa scene tentang arti sebuah toleransi. Tujuan utama film ini untuk menyampaikan pesan damai, sangat berhasil. Pesan damai tersebut tersampaikan dengan halus mengalir bersamaan dengan alur cerita. Jadi saya katakan sekali lagi bahwa film ini bisa ditonton oleh semua kalangan.

Dari segi akting, yang patut diapresiasi tinggi yaitu akting fauzi baadila. Muka sengak, kaku, angkuh sukses dipernakan olehnya. Selain fauzi baadila, saya juga mengapresiasi akting dari  Humaidi Abas (Ayahnya Rahmat) dan Hilya Qanita (anak kecil bernama Aisyah) jujur saya akui saat Hilya Qanita membacakan Ayat Suci, tubuh saya langsung merinding, dan saya sangat kagum sekali. Sekedar informasi, ternyata Hilya Qanita adalah pemenang  juara 1 dalam ajang program Hafidz Cilik RCTI 2013 yang lalu.

Selain saya menyampaikan kelebihan-kelebihan dari film 212 The Power of love ini, saya juga akan mencoba memaparkan beberapa kekurangan film ini dan tentunya beserta saran-saran yang bisa saya sampaikan.

Pertama, saya sedikit terganggu dengan akting beberpa pemain yang ada di film ini, ada beberpa menurut saya aktingnya masih ada yang belum terlihat natural bahkan sedikit kaku. Entah karena kurang latihan, atau kurang jam terbang, atau mungkin kurang arahan saat syuting. *jika kalian bilang "emang kamu bisa akting?" Halo teman-teman di sini saya bertugas mereview berdasarkan kacamata saya sebagai seorang penonton :) Jadi ini hanya sekedar opini.

Kedua yaitu mengenai sinematografi nya, ada banyak scene yang saya suka terutama saat pengambilan gambar view pemandangan/ landscape. Tapi satu hal yang menurut saya sedikit mengganggu adalah editing transisi nya. Di film terlalu banyak penggunaan transisi fade out to balck. Padahal dari segi alur cerita film ini sangat bagus namun mood saya  sedikit terpecah karena editing transisi tersebut. Sebainya tim editing bisa memperkaya lagi jenis atau teknik transisi antar scene ke scene nya.

Di beberapa scene saya juga menemukan efek greenscreen. Awalnya sempat kaget, yakin... adegan begini saja harus pakai greenscreen? okelah memang greenscreen sangat diperlukan apalagi untuk menampilkan suasana aksi 212 yang memperlihatkan ribuan masa. Tapi yang saya bingung yaitu ada sebuah scene yang hanya sekedar mengobrol dan itu shoot gambarnya lumayan dekat kenapa harus menggunakan efek greenscreen, Okelah tidak apa-apa sebenarnya jika menggunakan efek greenscreen tapi yang saya kecewa greenscreen tersebut finisingnya masih terlihat kasar 😟. Entah karena buru-buru saat editing atau bagaimana. Saya rasa tim film 212 ini sebenarnya jauh lebih mampu untuk memperhalus editingnya.

Ok teman-teman untuk keseluruhan review film kali ini saya menyimpulkan bahwa film ini cukup recommended ditonton! bahkan oleh semua kalangan. Rate yang saya berikan untuk film 212 The Power of Love yaitu 6.5/10.

Ayok buruan, ajak semua orang untuk menonton film ini, sampaikan salam damai untuk semua orang. jangan lupa ikut berpartisipasi dalam #putihkanbioskop
Maju terus perfilman Indonesia!!

Terimakasih telah membaca review saya, jangan lupa klik like, komen, share artikel ini ke semua sosial mediamu. Dan jika kamu suka dengan artikel-artikel yang ada di radarhijau.com kamu bisa berlangganan gratis melalui email.

#review212 #putihkanbioskop

Tiket nonton Film 212-The Power of Love di Cinemax
Tiket nonton Film 212-The Power of Love di Cinemax


Lihat Juga Versi Video Review



Review Film: Ananta (2018)

Assalamualaiku. Hi Sahabat Hijau!
Kesempatan kali ini saya akan mereview film "Ananta" garapan sutradara Rizki Balki. Film "ananta" dirilis perdana pada tanggal 3 Mei 2018. Satu hal yang membuat saya tertarik menonton film ini adalah film ini merupakan adaptasi dari sebuah novel karya Risa Saraswati, yang kita ketahui bahwa Risa saraswati merupakan penulis novel yang biasanya menulis novel berbau horor seperti novel Rasuk, Peter, Wiliam, dan lain sebagainya. Bahkan novel-novel tersebut digarap menjadi film horor yaitu "Danur".

review ananta
review ananta


Novel "Ananta Prahadi" merupakan aroma baru yang ditulis oleh Risa Saraswati. Saya sangat penasaran bagaimana Risa meluapkan atmosfer romance dalam kisah Ananta Prahadi. Jujur saya belum pernah membaca novel "Ananta Prahadi" Tapi setelah saya menonton film "Ananta" saya sangat tertarik untuk kenal lebih dalam dengan sosok "Ananta Prahadi".

Film berdurasi 91 menit ini dibintangi oleh artis cantik Michelle Ziudith, dan aktor Fero Walandouw, serta Nino Fernandez. Film ini mengisahkan seorang gadis cantik bernama Tania (Michelle Ziudith) yang mempunyai bakat seni lukis. Tania dilahirkan sebagai seorang temprament. Lalu munculah sosok Ananta Prahadi (Fero Walandouw) seorang pemuda sunda asli subang yang sangat sederhana mulai hadir di kehidupan Tania. Selain Ananta, hadir pula sosok laki-laiki lain yaitu Pierre (Nino Fernandez)

Hal yang membuat beda adalah disini Michelle sedikit keluar dari zona nyaman yang biasanya berakting memerankan wanita cantik, lucu, dan manja disini  Michell berubah menjadi sosok wanita cuek dan temprament. Hal ini juga yang membuat saya penasaran ingin melihat aktingnya. Saya juga sangat mengapresiasi akting yang diperankan oleh Fero. Fero berhasil memerankan sosok ananta prahadi dengan baik. Logat sunda yang kental terdengar sangat  natural.

Film ini mampu menyajikan adegan-adegan romantis yang tidak "menye-menye" seperti pada umumnya. Adegan romantis di film ini sederhana namun itu sudah lebih dari cukup menambah kesan manis dalam film ini. Selain adegan romantis, di film ini juga disajikan scene-scene komedi yang simple namun mampu mencairkan suasana. Intinya kalian yang menonton tidak akan dibuat bosan. Hampir tidak ada sedikitpun adegan senyap yang sia-sia. Semua scene digarap dengan matang dengan cerita yang padat dan jelas.

Ketika saya menonton trailernya saya berfikir bahwa pasti Tania akan berkahir bahagia dengan sosok ananta (saya berfikir bahwa alur cerita ini sudah umum terjadi di film-film romance lainnya), dan saat melihat filmya dugaan saya mulai benar tapi sedikit berbelok dari prediksi. kisah yang disajikan dalam film benar-benar tidak bisa ditebak. Alur ceritanya sederhana tapi tidak dibuat asal-asalan. Semua alur cerita diperhitungkan dengan matang.

Hal yang disayangkan dari film ini adlah durasinya yang menurut saya terllau singkat, terlihat di scene-scene terkahir terkesan sangat terburu-buru.. seharusnya sang sutradara mampu untuk mengembangkan lagi alur ceritanya, disajikan lebih halus dan lembut. sehingga emosi penonton tetap terjaga.

Melihat dari review orang-orang yang sudah membaca novel "Ananta Prahadi" banyak seklai adegan-adegan yang belum qdituangkan dalam film. Saya sih berharap film ini bisa dilanjutkan ke part 2. Karena melihat dari ending film ini masih memberikan celah peluang untuk dikembangkan di film selanjutnya.

Rate yang saya berikan untuk film ini adalah 7.2/10
Dan menurut saya film ini recommended!


Poster Official Film Ananta
Poster Official Film Ananta
Adegan Favorite!
adegan main air
sumber: https://www.instagram.com/filmananta/

Tonton juga Versi Video Review


7 Tips Membuat Desain Slide Presentasi yang Menarik

Assalamualikum Sahabat Hijau, postingan kali ini saya akan membahas mengenai 7 Tips Membuat Desain Slide Presentasi yang Menarik. Setelah kita membaca postingan ini, hal yang diharapkan yaitu kita dapat memahami dan tahu hal apa saja yang harus dilakukan untuk memaksimalkan desain Slide Persentasi agar terlihat menarik.
Seperti yang kita ketahui bahwa bentuk persentasi itu banyak macamnya, bisa berbentuk fisik seperti poster, maket, dan lainnya. Adapun materi persentasi yang berbentuk non fisik seperti video, music, bahkan gabungan keduanya. Di zaman milineal ini tentunya cara mempersentasikan sebuah materi sudah menerapkan bentuk non fisik atau digital. 

logo ms powerpoint
Gambar logo ms powerpoint 2016

Banyak sekali sekali software yang menyajikan fasilitas pembuatan materi persentasi seperti, microsoft power point, emaze, Haiku Deck, Prezi, Visme, dan masih bnayak lagi.

Tips 1

Rangkum Materi yang anda punya. Rangkuman tersebut harus mengandung minimal 5W+1H (What, who, when, where, why, and How)

Tips 2

Buatlah outline/ pokok bahasan dari setiap slide kamu
Contoh:
Slide 1: Berisi Judul dan informasi mengenai creator/ identitas kamu
Slide 2: Berisi Latar belakang permasalahan
Slide 3: Berisi Konten a
Slide 4: Berisi konten b
Slide 5: Berisi Rangkuman
Slide 6: Berisi Penutup/ ucapan terimakasih

Tips 3

Hanya menuliskan Point-point penting saja! penjelasan dan penjabaran lebih luas sebaiknya hanya perlu di ingat tanpa ditulis secara gamblang dalam slide. Ingat ini adalah power point (kekuatan point) kita bukan sedang membuat makalah atau bahkan novel. Lalu Bagaimana jika kita lupa mengenai point-point yang ada di slide? Caranya mudah, kita cukup menampahkan sedikit clue dalam point tersebut..

Jika kamu mampu menguasai materi, maka hal ini bukanlah tantangan besar untuk kamu. semakin sedikit text yang ditampilkan dalam slide dan semakin kamu lihai dalam menjelaskan point maka kamu dapat dikatakan sukses menyampaikan persentasi.  

Tips 4

Bermain dengan layout slide. Layout slide itu sangat penting. Setiap layout mempunyai fungsi yang berbeda-beda. layout title slide berfungsi untuk membuat slide judul, Section Header berfungsi untuk slide pemisah antar materi. Comparison berfungsi untuk membandingkan dua materi yang berbeda. dan masih banyak lagi bentuk layout lainya.. dan tentunya layout ini bukanlah acuan baku, kita bisa rubah sesuai kebutuhan.

Tips 5

Bermain dengan Warna.  Warna mengekspresikan perasaan tertentu. Warna yang terang dan lebih cerah sering terlihat lebih menyenangkan, sementara warna yang lebih gelap dan lebih dingin lebih menggambarkan kesan profesional.
Perlu di ingat bahwa gunakan warna yang kontras dan lembut di mata (kalo bisa sih lembut di hati juga), jangan sampai warna saling menimpa apalagi membuat teks konten utama tidak terbaca.

Tips 6

Typografi/ Pemilihan Font
Font dibedakan menjadi 3 macam. Pertama yaitu Font Serif, Serif adalah jenis font dasar dalam dunia tipografi, karena memiliki busur elit atau goresan kecil pada setiap akhir hurufnya. Macam-macam jenis font serif yang biasa digunakan adalah: georgia, times new roman, rockwell, perpetua, dan huruf-huruf sejenisnya.

Kedua yaitu font sans serif, Jenis font san serif merupakan kebalikan dari jenis font serif. Kata “San” sendiri memiliki arti tanpa atau tidak.
Ini berarti jenis font san serif adalah jenis font yang tidak memiliki busur elit atau goresan kecil pada setiap akhir hurufnya. Font jenis ini sangat direkomendasikan dalam pemuatan persentasi karena font ini terlihat lebih simple, tidak berat (lembut saat dibaca) dan tentunya memilki kesan minimalis. Macam-macam jenis font san serif yang biasa digunakan adalah: tahoma, univers, arial, arrial regular, arial black, dan huruf-huruf sejenisnya.

Ketiga adalah font script, Jenis font script adalah font yang lebih mengutamakan kesan perasaan kepada pembacanya.
Jenis font ini memiliki ciri yang khas seperti tulisan manusia pada umumnya, Seperti tulisan dari kapur, tulisan kaligrafi, atau bahkan tulisan anak-anak. Ini juga cocok dijadikan font persentasi, namun hanya cocok untuk text singat seperti judul atau sub judul.
Macam-macam jenis font san serif yang biasa digunakan adalah: comic sans, mistral, lucinda, monotype, script brush, , dan huruf-huruf sejenisnya.

Tips 7

Detail Desain
Meliputi Fotografi, icon, dan grafik
- Gunakan foto yang berkualitas HD (Kamu bisa mendapatkan foto tersebut dari foto milik pribadi ataupun foto free credit dari internet (situs reccomended penyedia foto gratis yaitu 
1. Unsplash.com
2. Pixabay.com
- Kamu juga bisa menyisipkan gambar png/ icon sebagai pelengkap ilustrasi slide persentasi.
atau bahkan video
- Usahakan selalu sajikan materi dalam bentuk diagram atau bagan yang menarik dan mudah dibaca
- Penambahan animasi dan transisi juga bisa dijadikan alternatif, namun jangan terllau berlebihan dalam menambahkan animasi