Radarhijau

Zero Waste, Health, Science, Movie, Business and Tips!

Latest Update
Fetching data...

Monday, September 2, 2019

Review Film Gundala (2019)

Review Film Gundala (2019)

Akhirnya Indonesia punya Patriot! Maksudnya pahlawan super fiksi ya sahabat. Akhir-akhir ini netizen seluruh jagad raya sosial media dihebohkan dengan pengumuman karkater-karakter super hero Indonesia oleh Joko Anwar. Yap! Super hero tersebut merupakan adaptasi dari cerita Bumi Langit yang kemudian oleh Joko Anwar di garap dan diviualisasikan menjadi Jagat Sinema Bumilangit. Maafkan diriku sebagai orang Indonesia yang baru tahu ternyata Indonesia mempunyai cerita Bumi Langit sekeren dan sekompleks ini. Setelah menonton film “Gundala” yaitu film debut perdana Jagat Sinema Bumilangit, sungguh diri ini semakin antusias ingin menyaksikan kisah-kisah lainnya. Sumpah tidak bohong dan tanpa lebay hehe ini film tidak kalah loh sama Marvel Cinematic Universal. Buat kalian yang masih bingung dan ragu dengan film ini, yuk simak ulasan atau review dariku mengenai film Gundala ini. SKUY!

Sinematografi
Siapa sih yang tak kenal Joko Anwar? Film sebelumnya yaitu Pengabdi Setan, sungguh membuat diri ini berdecak kagum terlebih mengenai garapan sinematografinya. Lalu apakah di film Gundala memberikan kesan yang sama? YA! Tentu! Di beberapa scene film Gundala, saya melihat sang kameramen sangat bekerja keras. Pengambilan gambar dilakukan dengan sungguh-sungguh. I mean, ini tidak hanya sekedar ambil gambar lalu bilang acton dan cut ya, tapi sang direktor benar-benar matang dalam memilih angle pengambilan gambar.
Di review yang sebelumnya saya sempat bercerita tentang kekecewaan saya mengenai color grading film Bumi Manusia. Tapi syukurlah di film Gundala, kekecewaan itu terobati. Gila men! Color grading film Gundala begitu deep, cinematic, tapi gak lebay. Aku suka, seriusan hehe. Tapi balik lagi ya, taste orang berbeda-beda. Semua dikembalikan lagi dengan selera masing-masing.

Visual Effect
Dengar kabar bahwa di film Gundala, Joko Anwar seminimal mungkin menggunakan visual effect berbasis komputer atau CGI. Beliau lebih memilih menggunakan visual effect organik atau alami. Mungkin itu semua beralasan bahwa memang CGI Indonesia belum cukup memuaskan mata. Sebenarnya bisa kok, tapi semua itu kembali lagi ke dana cuy. Realistis saja, selagi bisa menggunakan visual organik kenpa tidak. Lagian sekeren-kerennya CGI itu bakalan terlihat fake diabanding dengan visual organik.
Lalu bagaiamana visual efect di film Gundala? Sudah kuduga, di sini Saya mulai merasakan kekecewaan. Baru juga film dimulai tepatnya di scene pertama sudah merasa kecewa. Di scene tersebut melihatkan view atau suasana pabrik semen (kayaknya sih pabrik semen soalnya saya melihat banyak debu-debu batu kapur). Di shot tersebut melihatkan beberapa burung yang sedang terbang, dan burung tersebut sangat sangat terlihat fake karena menggunakan CGI. Menurutku sebenarnya tanpa burung-burung juga sudah keren padahal. Tapi saya tidak patah arang, saya optimis bahwa film ini keren. Sayapun lanjut menonton dan mencoba melupakan hal tadi. 
Tapi, semua itu terbayar sudah saat saya melihat beberapa scene yang menggunakan visual efek organik. Salah satunya visual efek patah kaki. Gila itu real banget. Sampe terdengar juga beberapa orang di teater teriak lirih kengerian. Dan masih banyak lagi efek-efek keren lainnya.

Story
Alur film ini cukup mudah dicerna oleh semua orang. Bukan tipe film yang harus memutar otak demi memecahkan setiap scene yang ada. Cerita dimulai dari kisah Gundala saat masih kecil. Namanya juga film perdana, tentu lebih intens menceritaka asal usul terbentuknya jati diri sang tokoh utama yaitu Gundala. 
Di awal-awal cerita saya sendiri masih belum merasa terkoneksi dengan apa yang diinginkan Joko Anwar. Karena di awal film, terkesan kisah masih samar, banyak adegan-adegan yang terjadi tanpa terlebih dahulu dilandasi teori dasar atau hint. Terlebih scene saat Gundala masih kecil. Jujur saya paham sih sebenarnya dengan inti ceritanya tapi rasa paham itu terkesan terpaksa tidak didasari dengan flow cerita yang ciamik.

Bergerak ke scene saat Gundala tumbuh dewasa, disini saya mulai merasakan feel dengan alur cerita film ini. Kekuatan karakter utama mulai kokoh, konflik-konflik juga sudah terlihat jelas. Dan yang harus di apresiasi adalah di sini mulai dimunculkan joke-joke ringan. Joke tersebut berhasil, buktinya hampir semua penonton di teater ikut tertawa (begitupun saya). Sudah kuduga, ternyata Joko Anwar meletakan “racun” nya di pertengahan film. Dan di akhir film, kalian akan benar-benar menelan “racun” tersebut. Gila sih ini film kenren. Terlebih film ini diperankan oleh aktor-aktor yang luarbiasa. Saat nonton dan mulai bermunculan aktor-aktornya, saya hanya bisa berdecak kagum. Joko Anwar sungguh tidak salah pilih aktor. Tapi tidak menutup kemungkinan ada beberapa akting yang menurut saya harus ditingkankan lagi khususnya yang memerankan Gundala kecil. Akting kamu sudah bagus dek, terus asah lagi kemampuan kamu. Karir kamu masih panjang. Buat Pak Joko Anwar, lanjutkan PAK! Diri ini sungguh bangga!

Ok itulah ungkapan kebahgiaanku saat nonton film Gundala. Kalian yang suka film super hero, please banget wajib nonton, apalagi ini film karya anak bangsa. Wajib di dukung!!!!!!

My Rate
Story
4.5/5
Cinematography
4/5
Visual Effect
3.5/5
Overall
9.0/10
Read More

Monday, August 26, 2019

Pengalaman Nonton Film Bumi Manusia

Pengalaman Nonton Film Bumi Manusia

Review Film Bumi Manusia

Ok. Akhirnya terkumpul juga niatan untuk mereview film Bumi Manusia. Sebenarnya saya sendiri sudah menonton film Bumi Manusia lebih dari satu minggu yang lalu. Tadinya mau langsung tulis review, karena terhalang jadwal ujian akhir semester dan kegiatan pindahan kost adik saya jadinya ngaret. Semoga saja informasi review ini masih bermanfaat ya buat kalian yang belum nonton ataupun yang sudah menonton yang ingin mencari-cari opini tentang film ini.

Sedikit cerita, sebenarnya saya sendiri sama sekali tidak tertarik dengan film Bumi Manusia dengan alasan yang sangat subyektif. Karena kurang suka dengan acting Iqbal Ramadhan. Entah. Tapi saya sangat tertarik dengan novelnya, ingin rasanya membeli novel Bumi Manusia. Sayapun tergiur dengan promo yang diberikan Tix ID. Saat itu Tix ID memberikan promo tiket nonton hanya 17 ribu plus 3 ribu biaya administrasi jadi totalnya 20 ribu. Di hati berkata bahwa ini lumayan, kebetulan hari itu adalah hari minggu yang notabene harga tiket 50 ribu ke atas. Jadi akhirnya sayapun memesan tiket Bumi Manusia melalui Tix ID dan memilih jadwal jam 11 siang karena niatan saya beres nonton pukul 1 siang supaya waktu sorenya bisa digunakan untuk belajar materi yang akan diujiankan besok senin. Akhirnya saya pun bergegas mandi dan menuju ke bioskop. Sampai juga saya di bioskop, langsung cek HP. KECEWA!. Loh kok kecewa? Ternyata 25 menit yang lalu tiket saya di refund oleh tix ID. Kan kentang!. Bodohnya saya tidak mengecek HP sebelum berangkat. Untuk menghibur diri, akhirnya saya putuskan untuk makan di Mujigae. Selesai makan entah kenapa hati ini masih mengganjal.Tidak rela pulang lagi ke kostan dengan rasa kekecewaan. Akhirnya entah karena bisikan dan godaan syetan jenis apa, akhirnya sayapun dengan enteng berjalan meuju meja pemesanan tiket. Tiketpun terbeli dengan harga 55 ribu. Saya nonton di jam setengah dua, dan pulang maghrib.

Okelah kalau begitu langsung saja. Maaf ya kebanyakan curhat.

Opening film disuguhkan lagu kebangsaan Indonesia Raya, tertulis bahwa hadirin dimohon berdiri. Satu bisokop berdiri dan bernyanyi Indonesai Raya. Merinding dan bangga. Di akhir lagu, tiba-tiba ada salah satu penonton yang teriak “Merdeka!” dan semua orang pun tepuk tangan. Di momen itu tentuya semakin membuat nuansa tetater semakin hangat dan tak sabar ikut mengalir di dalam cerita Bumi Manusia.

Dilihat dari segi durasi, film ini lumayan buat kenyang kalian yang suka dengan film berdurasi panjang. Film Bumi Manusia berdurasi 3 jam 1 menit. Tapi ya lumayan sih tidak buat kalain boring-boring banget.

Ada pepatah mengatakan bahwa jika kita tidak suka dengan seseorang ya sulit untuk menerima orang tersebut. Jujur sebenarnya saya sendiri mengharapkan ackting Iqbal di sini bisa meningkat. Tapi ya begitu, belum bisa mencuri perhatian saya. Saya malah lebih fokus ke detail-detail film yang begitu apik menyajikan nuansa-nuansa jaman dulu. Dari segi cerita walaupun ini film 3 jam tapi saya merasa scene-scene yang disajikan tidak mengalir seirama, terkesan banyak adegan yang terpotong (walau saya sendiri belum membaca novelnya ya, duh maafkan saya yang begitu sok ide). Konflik yang disajikan dalam film juga banyak yang tersaji kurang rapih, maksudnya seperti ada sesuatu yang belum digambarkan dengan jelas di konflik A tapi film sudah membawa kita ke konflik B.

Dilihat dari segi sinematografi dan editing menurutku sedikit mengecewakan, terlebih di editing color gradingnya masih kasar warna yang tersaji. Okelah ini berkonsep cerita di zaman dulu tapi color grading yang tersaji terllau kuning, saya sendiri percaya color grading film ini bisa lebih halus lagi harusnya. Sinematografinya juga standar, tidak jelek tapi yaaa belum memberikan kesan waw.
On point dari film ini sebenarnya ingin membuka mata penonton akan perbedaan perlakukan kepada pribumi, indo (campuran pribumi dan belanda), dan belanda pada masa lalu. Di cerita Bumi Manusia juga tersemat dengan rapih mengibarkan kampanye bahwa kita harus bebas dan bangkit, tidak boleh merasa hidup makmur terikat karena jasa orang lain. Kita harus sadar bahwa kita bisa makmur karena kita sendiri. Buanglah mental dipekerjakan, buanglah mental ketergantungan dengan orang lain.
Simpulannya film ini wajib nonton sih, terlebih momennya pas banget di bulan Agustus. Film yang wajib di tonton untuk memperkuat rasa cinta kepada tanah air. Rating yang bisa saya berikan untuk film ini yaitu 69/10.

Ok terimakasih sudah membaca celotehan saya kali ini.

Sedikit info lagi, buat kalian yang baru saja mau menggunakan aplikasi tix id, bisa pakai kode refferal saya, supaya kalian dapet voucher 25 ribu. Lumayan kan.

Kode refferal TIX-ID: YSC3U6



Read More

Thursday, August 15, 2019

Tempat Nugas (Coworking Space) di Kota Bandung GRATIS!

Tempat Nugas (Co Working) di Kota Bandung GRATIS!
Assalamualaikum sahabat hijau. Akhirnya sempat juga ngobrol panjang lebar lagi di sini setelah melewati semester lalu yang sungguh sangat spadat (24 SKS cuy), untung hamba kuat :')

Ok tanpa basa basi lagi, kali ini saya akan berbagi informasi tentang Co-Working Space. Buat kalian yang belum tahu apa itu co-working space, jadi itu adalah sebuah tempat yang di desain khusus untuk dijadikan tempat kerja, belajar, rapat, diskusi, dan hal lainnya yang produktif.

Sebelumnya saya mau nanya nih ke kalian. Sahabt hijau di sini ketika mengerjakan tugas sekolah, tugas kuliah, atau tugas kantor lebih enak mengerjakannya dimana? apakah di rumah? kostan? di kafe? atau dimana?

Saya sendiri entah kenapa lebih senang mengerjakan di tempat umum seperti kafe (tapi yang tidak terllau ramai ya). Alasannya simple yaitu merasa nyaman ketika ada orang-orang disekeliling (intinya berasa ada yang nemenin). Kadang jika mengerjakan tugas atau belajar sendiri di rumah itu terasa bosan, sepi, dan ujung-ujungnya mengantuk. Pernah saya coba sambil ditemani kopi, cemilan, dan tetap saja mengantuk dan bosan. Tapi ini tidak general ya, ini hanya pengalaman pribadi.

Nah masalahnya jika kita terus mengikuti hasrat untuk nugas atau belajar di luar (kafe, dll) itu tentu saja akan berdampak ke pengeluaran. Tidak mungkin kan kita nongkrong di kafe tanpa beli sesuatu. Minimal membeli secangkir kopi panas yang awet sampai berjam-jam hehe.

Untuk mengatasi masalah tersebut, ada satu solusi yaitu Co-working Space. Di Kota Bandung sebenearnya banyak co-working space. Mulai dari yang berbayar sampai yang GRATIS!!

Kali ini saya akan bahas yang gratis saja ya hehe.
Nah kebetulan hari Rabu tanggal 14 Agustus lalu saya pertama kali berkunjung ke coworking Bandung Digital Valley. Pengalaman pertama berkunjung sudah memberikan kesan positif.
Oh iya sebelumnya saya sudah terlebih dahulu mendaftar secara online sebagai anggota di coworking space Bandung Digital Valley.
Cara daftarnya, kalian tinggal sign up di link ini ==> PENDAFTARAN
Lokasi Bandung Digital Valley ini terletak di Menara Bandung Digital Valley Lantai 4, Jalan Gegerkalong Hilir No. 47, Sukarasa, Sukasari.


Setelah sampai ke lokasi, kalian bisa tanya ke Satpam yang berjaga di depan, bilang saja ingin ke Co Working Space, lalu Satpam akan menujukan tempat parkir dan pintu masuk. Tempat parkir berada di samping kiri belakang (lumayan luas). Setelah itu kalian masuk ke gedung utama. di Lobi kalian akan bertemu dengan penjaga "mbak-mbak" front table. Bilang saja kalian ingin ke coworking space dan nanti kalain akan diminta No ID member (ada di akun member yang sebelumnya kalian sudah daftar). Selain itu untuk jaminan, KTP kalian akan ditukar sementara dengan ID Visitor. ID Visitor ini berguna untuk akses ke pintu masuk (kalian tidak bisa masuk tanpa ID Visitor tersebut, karena pintu masuk dilengkapi dengan pengaman sensor kartu). Lokasi Bandung Digital Valley coworking space terletak di lantai 4.

Suasana di BDV
Suasana di BDV

Jam operasional Bandung Digital Valley Coworking space yaitu dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore dan hanya buka di weekdays (Senin-jumat). 
Fasilitas di sana cukup lengkap (ada mushola di lantai 5 pojok kiri, ada kopi gratis juga tapi saya belum nyobain) dan atmosfer tempatnya sangat futuristik. Tempat favorit saya sedniri yaitu di table yang menghadap ke Kota Bandung (indah asli).

Suasana di BDV
Suasana di BDV
Suasana di BDV
Suasana di BDV

Setelah saya mencari info, ternyata ada lagi cowrking space yang GRATIS! hehe yaitu:
Digital Innovation Lounge (DILo), jam operasional weekdays dari jam 9 pagi sampai jam 8 malam. Hari sabtu dan minggu tetap buka cuma jam operasionalnya dari jam 1 siang sampai jam 8 malam. Saya sendiri belum berkujung ke Dilo, semoga sabtu ini ada kesempatan berkunjung.

Ok sahabat hijauku, itu saja curcolku hari ini. Semoga informasinya bermanfaat dan isa menjadikan kita semua menjadi manusia yang lebih kreatif dan produktif lagi Aamiin. Sekian. Wasalamualikum.


Read More

Sunday, May 5, 2019

Refrensi Perencanaan Sistem Plumbing

Assalamualaikum Sahabat Hijau! Di artikel ini Saya akan memberikan sedikit informasi tentang Perencanaan Sistem Plumbing. Yuk simak bareng.
Refrensi Perencanaan Sistem Plumbing

1. Pengertian Plumbing

Plambing merupakan suatu sistem pemipaan dan peralatan yang bertujuan untuk menyediakan air bersih yang memenuhi syarat kualitas dan kontinuitas, juga saluran air buangan kotor dari tempat tempat tertentu tanpa mencemari bagian bagian penting dalam sistem pipa agar mencapai kondisi higienis untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana guna memberikan kenyamanan dan kepuasan kepada pengguna gedung saat kondisi normal tidak memberikan bahaya potensial pada kesehatan manusia maka salah satu upayanya adalah dengan merancang sistem plambing yang baik pada bagian dalam gedung dan lingkungan gedung tempat bekerja yang meliputi system penyediaan air minum, system penyaluran air buangan dan ven, system pencegah kebakaran dan system penyaluran air hujan. (Soufyan M. Noerbambang dan Takeo Morimura: 1991).

2. Sistem Plumbing

Sistem plambing merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan gedung. Oleh karena itu perencanaan dan perancangan system plambing harus dilakukan bersamaan dan sesuai dengan tahapan-tahapan perencanaan dan perancangan gedung itu sendiri, dengan memperlihatkan secara seksama hubungannya dengan bagian-bagian konstruksi gedung serta dengan peralatan lainnya yang ada.

3. Refrensi Perencanaan Sistem Plumbing

Refrensi Perencanaan Sistem Plumbing mencakup tinjauan umum hingga perhitungan yang mengacu pada Standar Nasional Indonesia mengenai tata cara perencanaan sistem plambing diantaranya adalah:

  1. Noerbambang, M Sofyan. 1996. Perencanaan dan Pemeliharaan Sistem plambing. PT.Pradnya Paramita. Jakarta.
  2. Standar Nasional Indonesia 03-6481-2000 Spesifikasi Sistem Plambing
  3. Standar Nasional Indonesia 03-7065-2005 Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing
  4. Standar Nasional Indonesia 8153: 2015 Sistem Plambing pada Bangunan Gedung
Read More