Radar Hijau

Welcome!

RADAR HIJAU adalah blog yang berisi informasi seputar dunia lingkungan, tips, Budidaya, dan info lainnya.

FOLLOW

Film Asih Buat Satu Bioskop Teriak, "Kaget"

Tanggal 11 oktober 2018 film danur resmi di tayangkan di bioskop. Film danur ini salah satu film yang tiketnya bisa di pre order loh.. bahkan saya perhatikan di H-3 penayangan , teater teater pemutaran film Asih sudah penuh. Bahkan saya pun hanya mendapatkan tiket nonton di kursi shift K (lumayan dekat dengan layar, tapi untungnya masih nyaman buat menikmati film). Dari hal tersebut terlihat kan antusias warga pencinta film dalam menyaksikan film Asih.

Poster film Asih (2018)
Poster film Asih (2018)


Oh iya sebagai disclimer. Jujur saya belum pernah menonton series danur univers lainnya, so saya tidak bisa membandingkan film asih ini dengan serial film danur lainnya. Jadi Maafkan Saya ya..

Tapi saya penasaran dengan arti “danur” itu sendiri. Setelah saya cari di KBBI dan ternyata arti danur itu adalah air yang keluar dari bangkai (mayat) yang sudah membusuk. Wah serem juga ya.

Ok, back to the review. Hal pertama yang terlintas saat selesai menonton film asih adalah “Ini film bikin orang nggak betah nonton, disetiap detik menonton penonton sudah digiring ke perasaan takut “dikagetkan” dan setelah kaget ya sudah selesai, tak ada hal lain lagi yang membekas”.

Buat kalian pencinta jumpscare, seriusan kalian harus nonton film asih. Di sini sang sutradara om Awi Suryadi melakukan teknik jumpscare begitu closer, seakan akan memang hantu itu ada di samping kanan kiri kita. Jujur saya sendiri banyak melakukan tutup kuping dan menyipitkan mata haha. Intinya sang sutrasara sangat ahli dalam menakut nakuti penonton. Jika ditelaah lagi sebenernya menurut saya hantu yang ada tidak seram sama sekali, tapi itu semua tertutupi oleh teknik jumpscare yang ada. 

Menilik dari story line, setelah saya baca dari berbagai sumber bahwa film asih ini adalah film pre quel dari Danur 1 dan Danur 2. Bahkan kejadiannya 37 tahun yang lalu. Masih sama, film Asih ini juga di adaptasi dari novel karya Risa Saraswati yang bertajuk “Asih”. 

Namanya Kasih. Sebuah nama yang indah, namun terlalu dingin dengan senyumannya di balik bayang-bayang yang mengerikan. Namun, Asih menjadi nama yang begitu merekat di dalam pikiran. Risa membuka gerbang dialog dengan Asih yang dingin, berbicara dan salineg membuka isi hati. 

Itulah sedikit cuplikan atau gambara cerita yang dituliskan oleh Risa Saraswati di dalam novelnya yang berjudul Asih. Menurutku ide ceritanya simple dan menarik.

Tapi entah kenapa di film Asih ini dengan modal story line yang cukup bagus namun pembawaan ke adegan film terkesan hambar. Menurut saya dialog-dialog yang disampaikan di film tidak menyatu dengan si pemain/tokoh dalam film. Entah si aktor/aktrisnya kurang jago akting atau sang sutradaralah yang tidak bisa mengarahkan ekspresi penjiwaan sang pemain film. Banyak dialog-dialog yang saya fikir masih mengambang, adegan demi adegan yang dilakukan terlihat terburu-buru tanpa transisi yang halus.
Dari segi latar film juga terkesan membosankan. Memang latar film di sini tidak banyak, hanya sekitran rumah, pohon, dan halaman. Tapi setidaknya bisa di akali dengan teknik pengambilan gambar yang variatif. Di sini bukan berarti saya menjelek-jelekan film asih ya, tapi inilah yang saya rasakan. Mungkin dari sisi pengambilan gambar bisa termaafkan, Cuma ya tadi, akting si pemain kurang maksimal dalam mengintrepetasikan dialog-dialog yang ada. Padalah banyak unsur-unsur creepy yang disajikan mulai dari mitos suara anak ayam, mitos suara tiang listrik tengah malam, mitos menaruh gunting di balik bantal dan masih banyak lagi hal creepy deep lainnya. Tapi kenapaa... semua itu terlihat biasa saja di film?
Berdasarkan analisis saya, sang sutradara lebih fokus ke arah “menakut-nakuti” dan sepertinya lupa dengan unsur story yang harus dibangun kuat dalam film. Jujur menurut saya film horror yang bagus adalah film horror yang tidak hanya membuat takut saja tapi film yang bisa dinikmati dari segi story nya juga. Rasa takut yang sesungguhnya itu bukan hanya sekedar teriak histeris di bioskop tapi rasa takut yang mampu terngiang terus walaupun sudah keluar dari bioskop bahkan bisa jadi terngiang terus saat sudah sampai di rumah atau kostan.
Kesimpulannya film ini bisa dikatakan film yang buat orang teriak kaget. Jika kalian ingin mengukur jumpscare ardenalin, kalian WAJIB NONTON FILM ASIH. Tapi jika kalian berekspetasi dengan story line yang kuat dan penuh plot twist, agaknya kalian jangan terllau berharap.
Rating yang bisa saya berikan yaitu 5.7/10. OK itulah review film Asih dari saya, semoga terhibur dan membantu. Sekian. 

Cara membuat surat keterangan sehat jasmani dan rohani di Bandung!

Hi Sahabat hijau! kali ini saya akn berbagi informasi cara membuat surat keterangan sehat jasmani dan rohani, khususnya di daerah Kota Bandung.

Saya sedniri membuat surat keterangan sehat jasmani dan rohani untuk keperluan pendaftaran CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil). Di persyaratan CPNS saya diharuskan melampirkan surat keterangan sehat jasmani dan rohani. Sekarang saya berdomisili di Kota Bandung. Mengingat bahwa ini merupakan keperluan untuk persyaratan kerja, saya pun memutuskan membuat surat kesehatan dari rumah sakit. Rumah sakit terdekat dari rumah yaitu Rumah Sakit Hasan Sadikin.

Rumah Sakit Hasan Sadikit (RSHS) beralamatkan di Jl Pasteur No 38 Bandung. RSHS itu sendiri merupakan rumah sakit yang cukup besar. Lalu dimana gedung RSHS khusus pembuatan surat sehat? Gedung yang khusus menerima pembuatan surat sehat yaitu di gedung Cardiac. Lokasi gedung Cardiak tepat berada di depan jalan Sukajadi (sebrang SPBU).



Jam operasional pembuatan surat sehat di gedung cardiac RSHS yaitu hari Senin sampai hari Jumat dan batas pendaftarannya yaitu sampai jam 2 siang.

  • Setelah kita sampai di gedung cardiak, lalu kita akan di arahkan menuju lantai 4. Setelah sampai di lantai empat kita belok ke arah kiri (dari meja resepsionis utama lantai 4). Setelah itu kita sampai di meja resepsionis khusus penerimaan pembuatan surat keterangan sehat.

meja resepsionis

 tempat pendaftaran surat keterangan sehat

  • Setelah itu kita diminta keterangan mengenai tujuan pembuatan surat kesehatan dan diminta menujukan KTP asli kita.
  • Resepsionis akan memberikan lembar pendaftaran yang harus kita isi.
Oh iya, berikut adalah daftar harga/biaya pembuatan surat keterangan sehat di RSHS
daftar harga/biaya pembuatan surat keterangan sehat di RSHS


  • Setelah kita mengisi lembar pendaftaran, kita kemudian diarahkan untuk melakukan pembayaran di loket pemabayran yang letaknya tak jauh dari menja resepsionis.

proses pembayaran

  • Setelah melakukan pembayaran, kemudian kita mengantri untuk melakukan cek kesehatan jasmani/ fisik (ruangannya tidak jauh dari meja resepsionis). Apa saja yang di cek? yang di cek yaitu berat badan, tensi darah, tinggi badan, status buta warna, dan keadaan perut. Surat keterangan sehat jasmani langsung jadi di hari itu juga. Surat tersebut diberikan oleh dokter yang memeriksa. Kemudian kita akan diminta untuk membubuhkan cap rumah sakit *minta cap nya di tempat resepsionis saat kita daftar.
  • Kebetulan saya juga harus menjalani tes kesehatan rohani. Tempat tes kesehatan rohani terletak di gedung yang berbeda yaitu di Ruang Psikometri/ Jiwa. Cara menuju ke ruang tersebut yaitu kita turun ke lantai satu, kemudian belok kanan sampai menemui lorong, kemduian belok kanan lagi sampai menemukan plang "ruang psikometri" lalu belok kanan. 
  • Tes kejiwaan itu seperti apa sih? nah di tes ini kita diharuskan menjawab soal sebanyak 500 lebih soal! sangat banyak dan membuat tangan pegel-pegel. Pertanyaan yang diberikan cukup simple kita menjawabnya hnaya ya/tidak. contoh pertanyaan kejiwaan yaitu "Apakah anda suka majalah otomotif?" dll.
lembar jawaban tes kejiwaan


  • Saran, kalian harus membawa alat tulis sendiri (bisa pensil atau pulpen)
  • Hasil tes kejiwaan tidak jadi hari itu juga, kita diharuskan datang kembali ke esokan harinya. waktu itu saya diharuskan datang kembali besoknya pukul 1 siang.
Ok teman-teman itulah pengalaman saya saat mebuat surat keterangan sehat jasmani dan rohani. semoga membantu.


Review VENOM 2018! [Free Spoiler]

Selamat siang! 
Ini masih keburu gak ya buat review? telat banget kan? wkk 😁
Sebenarnya saya nonton film Venom saat premiere, pada hari Rabu tanggal 3 Oktober 2018 di Ciwalk Bandung. Lagi dan lagi saya masih memanfaatkan promo dari Tix.id. Harga tiket normal untuk 2 orang yaitu Rp. 70.000,-. Saya mendapatkan potongan Rp. 35.000,- (potongan harga buy one get one free) + potongan pengguna Tix id Rp. 25.000,-. Jadi total diskon yang saya dapat yaitu Rp. 55.000,-. Lumayan kan buat anak kost seperti saya hehe #sayanguangnya

Cara mendapatkan PROMO TIX ID!
  1. Install App TIX ID di playstore atau App Store kalian.
  2. Daftarkan akun baru kalian
  3. Aktifkan Akun DANA (ada di bagain menu profile)
  4. Masukan Kode Referal TIX ID: YSC3U6
  5. Selamat Anda mendapatkan Voucher nonton senilai Rp. 25.000 + Rp. 25.000 GRATIS!
  6. Sekarang lagi ada promo Buy One Get One nonton VENOM
  7. Ada juga promo Buy One get One di hari RABU (Semua jenis Film).
  8. Selamat Mencoba!

Dikarenakan jadwal kuliah saya yang super padet, akhirnya pembuatan artikel review film kali ini sedikit tersendat. Alhamdulillah akhirnya jadi juga ini artikel.
venom 2018
Venom

Back to the Review!
Mulai dari mana ya.. Ok kita mulai dari si venom itu sendiri. Kalian tahu venom? buat kalian pencinta film Spiderman, tentunya kalian tahu dong salah satu musuh dari mas Spiderman ini. Yap! Venom merupakan vilan yang pernah muncul sebelumnya bersama dengan Spiderman di SPIDERMAN 3 (2007).
Poster film Spiderman 3
Sumber: Marvel Movie Wikia
Berdasarkan cerita, venom ini merupakan simbiot sejenis mahkluk dari luar angkasa. Simbiot ini bisa menjadi sebuah parasit jika tumbuh di tubuh inang yang salah/ tidak sesuai bahkan tubuh inang tersebut bisa rusak/ mati. Namun, simbiot ini akan menjadi mutualisme dengan tubuh inang jika tumbuh di inang yang mereka (simbiot) sukai. Seperti kasus venom ini, simbiot venom menyukai tubuh inang Eddi Brock.

Sebenarnya antara venom versi Spiderman 3 (2007) dengan Venom (2018) tidak jauh berbeda, cuman cerita di Venom (2018) lebih disesuaikan lagi. Saya tidak mau panajng lebar membahas perbedaan dan persamaan Venom versi Spiderman 3 (2007) dengan Venom (2018) dikarenakan pasti akan menimbulkan spoler. Di sini saya akan lebih fokus mereview tentang kualitas film Venom (2018).

Perbedaan Spiderman 3 (2007) dengan Venom (2018)
Sumber: Youtube
Antusiasme Penonton!
Gila! ini film bener-bener gila! FIlm Venom sampai-sampai tiketnya bisa di Pre-order. Saya sendiri Pre order tiket film ini agar bisa menonton di hari pertama tayang. Padahal saya pesen tiket di H-2 dan ternyata semua teater di bioskop Bandung hampir penuh, hanya tersisa kursi satu-satu "nyempil". Sulit sekali mendapatkan hot seat (apalagi buat nonton berdua sampingan). Saya memesan tiket untuk 2 orang, itupun tidak duduk berjejeran samping kanan kiri. Saya membeli tiket di kursi C12 dan B12 (jejer depan belakang) gk bisa diskusi dengan teman sebangku wkk. Itu saya nonton film venom pukul 21.55 dan teater Full!

Alur Cerita
Jujur saja alur cerita venom (2018) sedikit boring di awal. Saya sempat menanyakan pendapat teman saya dan dia bilang filmnya boring di awal (sampai-sampai sempat tidur) *temen saya itu bukan pencinta marvel banget. Mungkin buat kalian pencinta film marvel, seboring apapun film itu pasti akan tetap ON FIRE! karena seperti yang kita ketahui bahwa disetiap scene film pasti marvel menyelipkan adegan penting, so kalian jangan pernah lewatkan sedetik pun scene tersebut. 

Menurut saya alur cerita film ini "slow but sure". Di sini sang sutradara bapak Ruben Fleischer sangat pintar mengemas alur ceritanya, biasanya untuk film-film superhero/ manusia yang punya kekuatan kadang alurnya terlalu terburu buru hingga muncul kalimat "ko gitu? gampang banget jadi kuat? gak ada proses banget". Nah di film Venom (2018) alurnya sangat bagus, perlahan tapi pasti. Pemeran utama Eddi Brock tidak "ujug-ujug" menjadi kuat. Eddi Brock diceritakan dari awal mula kisah dia seorang laki-laki biasa bahkan pecundang.

Ada banyak kejutan-kejutan di film ini. Buat kalian warga melayu pasti akan bilang "waw". Tonton saja. 

Pemain
Pemeran utama Eddi Brock diperankan oleh Tom Hardy. Aktingnya jangan diragukan lagi. Banyak sekali film-film yang sudah om Eddi perankan mulai dari tahun 2001. Kalian bisa cek profile om Eddi di wikipedia.

Eddi Brock

Tom Hardy


Saya sempat salah fokus ke tokoh Anne Weying. Anne Weying merupakan pasangan dari Eddi Brock. Di film Venom (2018) Anne Weying yang dipeankan oleh Michelle Williams terlihat sangat cantik dengan rambut panjang lurus sebahu nya. Aktingnya pun tak usah diragukan lagi.

 
Anne Weying
Anne Weying

Michelle Williams
Michelle Williams


Dan masih banyak lagi pemain-pemain lainnya! *aslinya males bikin review pemain yang lain wkkk, maafkan 

Sinematografi dan CGI
Sinematografi dari film ini ya.. lumayanlah ya.. standar seperti film film super hero lainnya (ngomong-ngomong saya bingung mau sebut venom superhero atau bukan haha). CGI nya pun hampir tidak ada yang harus di kritik, semua CGI terlihat natural.

Kesimpulan
Dilihat dari rating IMDb, film Venom (2018) memiliki rating di atas rata-rata yaitu 7.1/10

VENOM IMDb Rate
VENOM IMDb Rate
Saya pribadi memberikan rating untuk film ini yaitu 7.0/10. Highlight dari film ini yang saya kritiki yaitu seharusnya dari segi cerita, sang sutradara harus mengemas cerita lebih fun lagi agar si penonton tidak boring di awal film. Selebihnya film ini sangat menghibur terlebih buat kalian pencinta film marvel. Ini sangat recommendid!! Buat kalian yang kepo dengan kisah segar dari munculnya venom, silahkan tonton film ini! mumpung masih tayang dan mumpung masih ada PROMO hehe 😁.

Oh iya jangan sampe keluar teater dulu, ada 2 post credit menunggu.

Oke sekian dulu ya review film kali ini. Semoga membantu.

[Review Film] Film The Nun (2018) ternyata di luar ekspetasi

Hello Sahabat Movie! Kembali lagi dengan Saya di Radarhijau. Di sini siapa yang suka nonton film horror? *yang walaupun takut tetap suka dengan misteri atau teka-teki filmnya.
Film The Nun
Film The Nun (2018)
Hari Rabu, 5 September 2018 film The Nun resmi rilis di Indonesia. Film ini merupakan salah satu film horror yang saya tunggu-tunggu bahkan semenjak film ini hanya sebatas ‘rumor’. Saya kira film The Nun yang mengisahkan hantu Valak ini hanya sebuah meme atau lelucon menyambut dulu hadirnya film The Conjuring 2 (2016), dan ternyata trailer resmi film The Nun pun hadir menggemparkan. Saya sangat antusias dengan film ini.

Saya berharap film ini disutradarai oleh James Wan, sayangnya di sini James Wan hanya berperan sebagai Pak Produser. Buat kalian yang belum tahu James Wan itu siapa, sedikit mengulas bahwa James Wan adalah sutradara ternama film horror. Saya sangat yakin jika film yang di tangani/ di sutradarai oleh beliau pasti hasilnya di atas rata-rata. Beberapa film yang sukses di direct oleh om James yaitu Saw (2004), Insidius (2011), Insidius: Chapter 2 (2013), Furious 7 (2015) dan The Conjuring 2 (2016). 

Film The Nun di sutradarai oleh Corin Hardy. Data karya film dari Corin Hardy tak begitu banyak yang saya dapat, Corin Hardy pernah mensutradarai film Horror The Hallow (2015). Beda sutradara beda rasa, mungkin itu adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan film The Nun. Banyak sekali pencinta film horror (yang benar-benar cinta dari DNA) merasa sedikit kecewa dengan film The Nun. Terlihat beberapa teman saya yang ‘hobby’ nonton horror meluapkan kekecewaan pada film ini di social media mereka.

Apa sih yang membuat kecewa para netijen? Jujur saya juga sedikit merasa film ini di bawah ekspetasi saya. Tapi ada beberapa hal yang membuat saya bangga dengan Pak Corin di film The Nun ini. Biar lebih jelas lagi mari kita simak reviewnya.
Saya cek di app TIX ID, semua teater yang ada di Kota Bogor hampir semuanya penuh! Sangat sulit mendapatkan hot seat apalagi untuk kursi couple/ groupy. Untung saja saya bukan tipe orang-orang yang mau nonton kalo ada teman sebangkunya, saya lebih prefer untuk menikmati filmnya. Jadi tak masalah buat saya, Alhamdulillah kursi nyempil di lokasi hot seat pun masih ada. Melihat dari ramainya teater bioskop, ini sudah jelas terlihat bahwa Film The Nun ini sangat di tunggu-tunggu sekali. 

Ok sekarang saya mau mereview dari segi story line. Pastinya story line yang disajikan tidak mentah-mentah story line yang mudah ditebak. Jujur saja saya baru tahu alur cerita film ini di ¾ jalannya film. Jadi film ini dari sisi story line masih aman (dibilang plot twist yaa... standar saja, tidak seribet story line film detektif ko kawan hehe). 

Oh iya, film The Nun ini latar waktunya yaitu beberapa tahun sebelum kejadian di film The Conjuring 2. Lebih tepatnya film ini adalah film yang mengisahkan awal mula munculnya si Valak. Saya tebak, karena film The Conjuring 2 laku abis di pasar perfilman akhirnya si James Wan pun berani untuk membuat film prequel Film Conjuring 2 yaitu The Nun. The Nun ini merupakan film yang 90% latar ceritanya berada di gereja tua. Inti storynya yaitu menguak sesuatu yang ‘ganjil’ di gereja tua tersebut. Perjalanan yang penuh debaran dan teka-teki tersusun rapih di setiap scene film ini.

Teknik Jumpscare di Film The Nun patut diacungi jempol! Banyak scene jumpscare yang menurut saya fresh/ baru di film horror ini. Tak hanya monoton sekedar suara sunyi lalu muncul hantu, di film ini banyak kumpulan-kumpulan teknik yang dikombinasi sperti nuansa pencahayaan, scene di depan cermin, sinematografi yang menguatkan rasa kengerian dan lainnya. CGI di film ini pun masih terbilang aman. Pemain-pemain di film ini pun saya sangat menikmati aktingnya. Akting para pemain terlihat natural, tidak berlebihan bahkan saya suka dengan paras-paras the nun (biarawatinya) semua cantik-cantik. Jadi tidak melulu melihat wajah rusak atau seram si valak hehe. Selain itu, unsur komedi di film ini juga ada beberapa yang mampu mengadirkan senyum bergemuruh para penonton di bioskop.

Saya tahu mengapa banyak orang yang kecewa (termasuk saya sendiri) terhadap film The Nun. Sang sutradara terlihat lebih fokus ke teknik jumpscare bahkan terlalu berlebihan. Si Corin Hardy ini lupa menguatkan unsur permainan psikologi penonton. Di film The Conjuring 2 ketika muncul Valak penonton langsung merasakan kengerian bahkan mungkin ada yang sampai terbayang-bayang walau film sudah selesai. Berbeda di film The Nun ini, penonton melihat valak tak lagi merasa ngeri tapi hanya merasa takut atau bahkan hanya ‘kaget’ saja. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Karena di Film The Nun ini terlau banyak scene teror fisik yang dilakukan bukan teror psikis (lebih tepatnya seperti menonton film zombie bukan film horror). Itu merupakan kesalahan yang fatal. Kasus ini sama yang terjadi di film Pengabdi Setan. Di film Pengabdi Setan penonton sempat kecewa dan merasa aneh di scene-scene terakhir film (katanya kaya film The Walking Dead) tapi untungnya di Film Pengabdi Setan, penonton sudah lebih dulu ‘dijejelin’ teror psikis di awal-awal film. Refrensi yang bagus buat kalian tentang film horror yang terror psikisnya kuat yaitu film Hereditary (2018).

Menurut saya, standar film horror sekarang meningkat tajam. Para sutradara harus ektra kerja keras dalam merakit scene-scene yang ada. Sekarang menonton film horror bukan hanya sekedar ingin menikmati bentakan musik-musik keras dan muka-muka rusak si hantu saja, melainkan penonton harus disuguhkan story line yang mampu menguras pemikiran, terror yang natural yang mampu menggoyangkan psikis penonton dan tentunya harus disertai bumbu-bumbu lainnya seperti humor, CGI, sinematogarfi, bahkan sountrack musik yang melekat di pendengaran. "You are my sunshine, my little sunshine...". "Di kesunyian.. Malam ini..."

Rating yang bisa saya kasih buat film ini yaitu 6.8/10. Rating sementara di IMDb untuk Film The Nun yaitu 7.2/10. Tapi film ini sangat recomended ko kawan. Buat kalian penggemar film horror The Conjuring Series WAJIB NONTON! Kalian harus tahu si valak ini lahir dari mana.
Ok sekian review dari saya. Selamat menonton!!

Buat kalian yang mau dapetin tiket Buy One Get One + Voucher nonton senilai Rp. 50.000 GRATIS! Caranya mudah (saya juga nonton pakai cara ini, jadi lebih hemat kawan).
Caranya yaitu kalian pesan tiket online di app TIX ID.

  1. Install App TIX ID di playstore atau App Store kalian.
  2. Daftarkan akun baru kalian
  3. Aktifkan Akun DANA (ada di bagain menu profile)
  4. Masukan Kode Referal TIX ID: YSC3U6
  5. Selamat Anda mendapatkan Voucher nonton senilai Rp. 50.000 GRATIS!
  6. Sekarang lagi ada promo Buy One Get One nonton The Nun
  7. Ada juga promo Buy One get One di hari RABU (Semua jenis Film).
  8. Selamat Mencoba!


Ekstensi S1 dari D3 itu nyata!

Dari D3 ke S3 apakah cuman mimpi?

Hello sahabat hijau! Kangen nih pengen cerita-cerita, mumpung lagi gabut belum mulai aktif kuliah lagi. Curahan hati ini terkhusus buat kalian yang masih ragu dengan status kuliah di D3. Buat kalian yang masih beranggapan bahwa kuliah D3 itu tidak ada harapan lagi. Buat kalian yang menyesal kuliah di D3. Buat kalain yang selalu diperolok oleh orang-orang sekeliling "loh? kenapa nggak kuliah S1 sekalian?". Itinya potingan ini buat kalian yang merasa 'rendah' kuliah di D3 dibandingkan dengan S1. Kalian tepat sekali berada di postingan ini. Semoga setelah kalian membaca postingan ini, sedikit tumbuh kepercayaan diri dan titik terang yang mengantarkan kalian ke gerbang kesuksesan. Aamiin.
Logo IPB dan Itenas
Logo IPB dan Itenas

Status saya sekarang adalah lulusan baru dari program diploma (D3). Alhamdulillah saya lulus tepat waktu mengikuti wisuda tahap satu. Tepatnya pada tanggal 28 Agustus 2018 Saya resmi di wisuda di Graha Widya Wisuda (GWW) IPB.

3 tahun yang lalu

Sekarang saya mau ajak kalian mundur ke era 3 tahun yang lalu, tepatnya saat saya masih anget lulus dari SMA Negeri 1 Cikarang Pusat. Saya dulu mengikuti program akselerasi (saya SMA hanya 2 tahun). Pasti kalian beranggapan bahwa 'wah enak ya.. bisa sekolah SMA hanya 2 tahun saja, cepet kuliah dong'. Jujur memang sangat menguntungkan, saya bisa mengemat waktu saya satu tahun. Tapi, banyak sekali dampak negatif yang saya terima. Pertama yaitu saya tidak mempunyai waktu bermain yang banyak dibandingkan dengan teman-teman reguler. Saat di kelas saya dituntut agar belajar lebih ekstra dan cepat menangkap materi pelajaran yang ada. Hasilnya saya harus mengejar itu semua dengan cara belajar lebih ekstra, bahkan di tengah malam sampai sepertiga malam saya masih sibuk dengan buku-buku pelajaran. Segala usaha yang saya lakukan tidak semuanya berjalan suskes, tetap saja ada mata pelajaran yang menurut saya susah untuk dipelajari dengan waktu cepat. Terkhusus saya sangat lemah sekali di mata pelajaran matematika.

Singkat cerita, akhirnya saya lulus juga. Saat itu ruang bimbingan konseling (BK) selalu ramai dipenuhi siswa kelas 12. Semua siswa kelas 12 berburu informasi pendaftaran kuliah (termasuk saya pribadi). Selain saya mengikuti pendaftaran kuliah lewat Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) saya juga mengikuti pendaftran lainnya yaitu mendaftar di program diploma IPB, dan tes SBMPTN serta mengikuti simak UI. Oh iya sebelum membaca lebih lanjut, kalian bisa baca posingan saya sebelumnya:


Pengumuman penerimaan mahasiswa baru D3 IPB pun akhirnya keluar, saya termasuk di dalam daftar siwa yang diterima. Jujur saya waktu mendengar pengumuman tersebut ekspresi saya biasa saja, mungkin karena awal saya mendaftar di D3 IPB hanya sebagai 'cadangan' (duuh... tidak mensyukuri sekali... jgn ditiru ya kawan). 

Minggu selanjutnya merupakan pengumuman SNMPTN. Ini merupakan hal yang paling 'deg-deg-an' asli. Sedih sih melihat warna merah di website hasil pengumuman SNMPTN. Saya mencoba untuk ikhlas. Beberapa hari kemudian ada jalur SBMPTN, awalnya saya sudah malas ikut tes-tes seperti ini. Tapi saya penasaran. Akhirnya saya ikut SBMPTN (tanpa belajar! hanya ingin tahu SBMPTN yang sesungguhnya itu seperti apa, kocak banget emang). Dan hasil SBMPTN pasti gagal, orang saya sendiri tidak belajar dan asal ikut saja.

Beberapa hari berlalu, akhirnya saya mantapkan niat untuk berkuliah di IPB (D3). Setelah beres mengurus administrasi, akhirnya tibalah masa pengenalan kampus.

Masa-masa dimana pertanyaan 'Kuliah dimana?' bermunculan. Sempat kesal dengan orang-orang yang selalu bilang 'kenapa harus kuliah di D3? sayang banget.. kenapa nggak S1 sekalian?'. Awal saya coba jelaskan dengan baik-baik dan sistematik wkk. Tapi lama-lama cape juga, akhirnya saya hanya balas pertanyaan tu dengan senyuman. Di dalam hati saya selalu bilang 'saya janji akan kuliah lebih tinggi dari S1'. Dendam membara banget emang! wkk. Tapi itu dendam positif ko kawan, sebagai pemicu dalam diri bahwa kuiah D3 itu bukan akhir dari segalanya. Semua orang berhak mempunyai mimpi kuliah lebih tinggi.

Buat kalian yang beranggapan bahwa kuliah D3 itu kan memang dirancang untuk mahasiswa yang siap terjun di dunia kerja. Itu betul sekali. Tapi semua orang bebas memilih jalan hidupnya masing-masing. Tidak ada yang melarang kok buat kalian yang lulusan D3 ingin lanjut S1.

Berapa lama masa kuliah ekstensi S1 dari D3?

Pertanyaan ini sering sekali muncul. Jawabannya adalah relatif. Bisa 1.5 tahun, 2 tahun, 2.5 tahun, bahkan 3 tahun. Lamanya kuliah ekstensi S1 dari D3 ditentukan oleh hasil ekivalensi mata kuliah, kebijakan masing-masing perguruan tinggi dan pastinya ditentukan oleh rajin atau tidaknya kita pribadi.

Saya pribadi melanjutkan kuliah ekstensi S1 di perguruan tinggi swasta yang ada di Kota Bandung (Institus Teknologi Nasional).  Saya mengambil program studi Teknik Lingkungan. Nah, buat kalian lulusan D3 IPB Teknik dan Manajemen Lingkungan masih bisa melakukan ekstend ke S1 Teknik Lingkungan.

Hasil ekivalensi mata kuliah/ transfer mata kuliah dari kampus D3 IPB ke kampus Itenas (Institus Teknologi Nasional) dari 114 SKS hanya 49 SKS yang masuk ke kampus Itenas, dengan kata lain saya harus menyelesaikan 95 SKS lagi di Itenas karena total SKS Teknik Lingkungan di Itenas yaitu 144 SKS.

Sedih banget memang, 114 SKS hanya 49 SKS yang diterima. Kok bisa!? Ya bisa atuh kawan. Berikut alasan mengapa hasil ekivalensi D3 IPB Teknik dan Manajemen Lingkungan sedikit sekali.
1. Karena program pendidikan awal saya ada kata 'manajemen' so.. saya di IPB selain belajar teknik, saya juga belajar ilmu manajemen lingkungan. Sedangkan di Itenas hanya 'teknik' lingkungan saja. Otomatis mata kuliah manajmen tidak diikutsertakan karena di Teknik Lingkungan Itenas tidak mempelajari matakuliah manajemen.
2. Jumlah SKS dan sistem SKS. Di kampus D3 IPB SKS lebih dititik beratkan ke praktikum/ responsi bukan ke kuliah. Rata-rata jam kuliah di D3 IPB hanya 1 jam matakuliah sedangkan praktikumnya bisa sampai 3 jam (Ini beralasan karena D3 memang dirancang untuk mahasiswa yang siap bekerja di alpangan). Berbanding terbalik dengan program pendidikan sarjana (S1) jam kuliahnya lebih banyak. (Ini dirancang untuk mahasiswa sarjana lebih fokus ke analisa).
Nah kurang lebihnya seperti itu. Jelas kontras perbedaan sistem kuliah di D3 dan S1.

Saya sedniri tidak merasa menyesal kuliah di D3 terlebih dahulu kemudian lanjut ekstensi di S1. Memang jika dikalkulasikan masa studi saya untuk mendapatkan gelar S1 sekitar 5 Tahun. Tapi itu semua terbayar/ tertutupi karena saya dulu pernah mengambil kelas akselerasi waktu SMA (Ternyata jalan Allah itu indah). Kelebihan selanjutnya yaitu saya setidaknya sudah tahu pahit getirnya dunia perkuliahan, bahkan lebih sadis (di D3 IPB sistem belajarnya padat sekali, tugas tiada henti bagai air terjun yang mengalir). Selain itu, ketika saya lulus S1 saya mempunyai dua ijazah, ijazah D3 dan S1. Setidaknya selain saya mempunyai status sarjana saya juga mempunyai keahlian kerja lapang yang mumpuni karena saya adalah alumni lulusan program diploma. Jujur banyak sekali berkah yang saya dapat. Tiada henti untuk selalu bersyukur. Buat sahabat hijau, jangan patah semangat!! Jalan selalu ada, Allah itu selalu tahu jalan terbaik untuk kita. Semangat!!

Tag: Ekstensi D3 IPB ke S1, Lama studi ekstensi S1 dari D3, Sistem belajar S1 dan D3, Hasil ekivalensi matakuliah, Itenas, IPB, Bandung, Bogor.

[No Spoiler] Review Film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Helo Sahabat Movie. Siapa yang tak kenal dengan pendekar Wiro Sableng? Hari ini saya akan mereview film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 besutan rumah produksi Lifelike Pictures yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko. Film ini perdana tayang di layar bioskop pada tanggal 30 Agustus 2018.
Film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
sumber gambar: quick corp

Saya ingat betul dulu saat saya masih berumur 6 tahun an atau sekitar tahun 2003-2005 acara TV atau Film bernuansa kolosal sangat populer mulai dari film misteri gunung berapi (mak lampir), angling darma, Jaka Tingkir dan termasuk series Wiro Sableng.

Buat kamu yang ingin bernostalgia dengan film-film kolosal Indonesia, tepat sekali menonton film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (cukup panjang ya.. judul filmnya ehe..). Saya pribadi sangat menunggu tayangnya film Wiro Sableng, selain saya suka dengan film bergenre kolosal satu hal yang membuat saya sangat penasaran yaitu film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 ini juga bekerja sama dengan rumah produksi Hollywood 20th Century Fox!! Bagaimana hasil filmnya ya? Apakah disuguhkan CGI? Atau efek-efek keren lainnya? Penasaran? Yuk simak reviewnya!

30 Agustus 2018 Saya dan teman saya menonton film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 di CGV Paris Van Java.

Pertama saya akan mereview dari segi jalan cerita. Jujur saya tidak terlau hafal dengan jalan cerita Wiro Sableng. Dulu waktu kecil hanya sekedar menoton saja tanpa memperhatikan unsur cerita lebih dalam. Seri Wiro Sableng meruapkan adaptasi dari Novel Wiro Sableng karya Bastian Tito. Jalan cerita film ini sangat simple karena alur ceritanya merupakan alur maju. Tidak ada yang spesial dari segi story line. Point besar yang sangat recommended dari film ini yaitu adegan-adegan joke/komedinya. Gila kocak banget, beberapa kali bioskop bergemuruh tertawa lepas. Ini film ngilangin stress banget.

Kedua dari segi sinematografinya. Sinematografi dari film Wiro Sableng ini lumayan memanjakan mata (walaupun ya.. dibilang sempurna ini masih belum membuat saya WAW keren pengambilan gambarnya) Jujur terakhir yang membuat saya WAW dengan sinematografi filmnya yaitu Film Blade Runner dan Film Sebelum Iblis Menjemput (buat kamu sineas muda, coba tonton film ini banyak teknik sinematografi yang keren).

Segi set lokasi film, saya acungkan jempol karena menurutku sangat sulit mencari set yang benar-benar mewakili zaman kolosal. Mulai dari barang-barang, pakaian, dan lokasi semuanya terlihat natural. Saya belum tahu pasti set lokasinya dimana, tapi saya perhatikan mirip-mirip di kaki gunung.
Melihat dari segi pemain. Film ini diramaikan oleh aktor dan aktris Indonesia yang terbilang sudah memiliki nama di dunia hiburan. Deretan pemain film Wiro Sableng yaitu Vino G Bastian yang memerankan Wiro Sableng (dan ternyata Vino G Bastian merupakan anak kandung dari sang penulis novel Wiro Sableng yaitu Bastian Tito), Marsya Timoty sebagai Bidadari Angin Timur (merupkan istri asli dari Vino G bastian), Sherina Munaf sebagai Anggini, Ruth Marini sebagai Sinto Gendeng, dan masih banyak lagi (kalian bisa searching sendiri hehe..). Akting Vino G Bastian memang tak bisa diragukan lagi. Saya pikir akting Vino di film ini sangat natural. Vino memang cocok memainkan peran yang konyol dan slengean seperti karakter Wiro Sableng ini.
Nah sekarang yang ditunggu-tunggu ini, yaitu CGI di film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Saat trailer ke-2 film Wiro ini di publikasikan saya sempat menaruh kecewa melihat CGI nya, terkhusus di bagian adegan di atas pohon. Kemudian beberapa bulan kemudian muncul trailer ke-3 di sini kekecewaan saya sedikit terobati karena adegan di atas pohon tersebut sedikit lebih smooth walau tidak senyata CGI film hollywood lainnya. Dan apakah CGI nya akan diperbaiki saat final filmnya? Setelah saya menonton, tetap saja CGI di adegan itu masih kurang memuaskan. Tapi CGI di adegan-adegan lainnya saya acungkan jempol!!! Terlebih CGI untuk kekuatan magis-magis nya itu terlihat real, dan CGI api juga lumayan. Cuman kekurangannya ya itu tadi adegan CGI green Screenya masih Hmmmm...mm... (nisa sabyan 10 jam). Tapi overall ini lumayan ko teman-teman, setidaknya tak sekasar naga yang ada di Ind*siar.

sumber gambar: kapanlagi com


Kesimpulannya film ini reccommended! Saya kasih rating 7.2/10 (ini menurut saya ya). Rating sementara film Wiro Sableng dari IMDb yaitu 8/10. Ayo buruan tonton film ini, buat kamu yang rindu nuansa dahulu dan ingin melepas penat cocok banget! Ayo kuy bantu bangun perfilman Indonesia. Oh iya setelah film selesai, jangan pulang dulu!! Ada Post Credit Scene nya, dan post credit scene ini merupakan kunci keberlanjutan film Wiro Sableng. Ok itulah review film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Semoga bermanfaat.

Buat kalian yang mau dapetin tiket Buy One Get One + Voucher nonton senilai Rp. 50.000 GRATIS! Caranya mudah (saya juga nonton pakai cara ini, jadi lebih hemat kawan).
Caranya yaitu kalian pesan tiket online di app TIX ID.

  1. Install App TIX ID di playstore atau App Store kalian.
  2. Daftarkan akun baru kalian
  3. Aktifkan Akun DANA (ada di bagain menu profile)
  4. Masukan Kode Referal TIX ID: YSC3U6
  5. Selamat Anda mendapatkan Voucher nonton senilai Rp. 50.000 GRATIS!
  6. Sekarang lagi ada promo Buy One Get One nonton The Nun
  7. Ada juga promo Buy One get One di hari RABU (Semua jenis Film).
  8. Selamat Mencoba!

Tag: #wirosableng2018 #wiro #sableng #reviewfilm #vinogbastian #212 #filmkolosal

Tips Memilih Kampus dan Jurusan Kuliah

Assalamualikum sahabat hijau.
Hari ini saya akan memposting TIPS MENENTUKAN JURUSAN DAN TEMPAT KULIAHBuat kalian yang sampai detik ini masih bingung mau kuliah di jurusan apa dan dimana, kalian tepat sekali jika kalain membaca artikel ini. Selamat menyimak semoga mendapatkan sebuah pencerahan yang bermanfaat.

Beberapa Logo PTN dan PTS di IndonesiA
Beberapa Logo PTN dan PTS di Indonesia
Mau Daftar Kuliah Dimana???

Coba yang saat ini masih bingung mau kuliah dimana angkat tangan!!
Wajar ko, memang gampang - gampang susah saat kita harus menentukan tempat kuliah. Saat-saat ini sungguh sangat ramai sekali anak-anak SMA/sederajat membicarakan tentang kuliah. Mau kuliah dinama?? Fakultas apa?? mau masuk jalur apa? dan bla.. bla..
Buat kalian yang masih bingung dengan hal itu, saya akan mencoba memberikan beberapa Tips untuk kalian agar mudah dalam memilih Jurusan kuliah.

1. Kenali diri Pribadi, "Saya itu sebenernya suka apa si?"

Bagaimana cara mengenali minat dan bakat kita?? Sebenernya secara tidak langsung kalian sudah tau itu. Coba perhatikan diri sendiri, sahabat sekalian dalam keseharian suka melakukan hal apa saja??

Contohnya seperti ini. Saya dulu saat SMA waktu diberikan tugas untuk membuat denah lokasi Bang Sampah. Saat itu saya langsung explore ke internet cari program cara membuat peta lokasi. Bahkan dalam bentuk 3D. Awalnya iseng-iseng namun lama kelamaan semakin suka dengan yang namanya pemetaan bahkan membuat bangunan rumah 3D sekalipun. Nah itulah yang dinamakan "Passion" tujuan hati. 

Bisa saja kalian seperti saya, minatnya menjadi Arsitek. Masih banyak lagi kok contoh kasus-kasus lainnya. Nah coba deh mulai sekarang kenali diri kita pribadi.

Kalo kita udah tau passion kita apa. Saat kuliah nanti kita akan menjalankan kuliah dengan sangat mudah dan nyaman.
"Kunci kesuksesan adalah keikhlasan dan kenyamanan"
Jika kita sudah ikhlas dan nyaman dalam melaksanakan kuliah Insyaa Allah nanti pas kuliah tugas-tugas dari dosen yang banyak seabrek akan terselesaikan dengan mudah. Otomatis hasil IPK pun memuaskan (Aamiin). Setelah lulus kuliah pun kita akan mendapat kerja yang sesuai dengan minat dan bakat kita. Jika sudah merasa nyaman dengan apa yang kita lakukan, kata "sukses" pun perlahan akan mengikuti kita dengan sendirinya.

Prinsip saya adalah "Kejarlah Apa yang Kita Minati, Kesuksesan akan datang dengan Sendirinya"

2. Jangan Hanya Mementingkan Prospek kerja dan Besarnya Gaji yang didapat.

Pastinya setiap calon mahasiswa hal pertama yang dilihat saat akan menentukan jurusan kuliah adalah Prospek Kerja dan Besarnya Gaji yang kelak akan didapat. Tapi apakah semua itu akan menjamin bahwa kita akan kerja 100% di bidang tersebut?? Sahabatku.. Persaingan kerja saat ini sudah sangat ketat sekali.
Ok, seandainya kita dapet pekerjaan yang kita inginkan dengan gaji yang sangat berlimpah. Apakah kita nyaman dengan pekerjaan yang kita pilih??
Bukanya tujuan hidup itu Bahagia?? ok.. kita akan bahagia jika kita dapat memenuhi kebutuhan kita dan kebutuhan kita akan terpenuhi dengan adanya uang yang mencukupi tapi apakah hanya dengan uang kita sudah cukup bahagia?? itu relatif ya sob.. mungkin jawaban kalian beraneka ragam.
Tapi seperti yang sebelumnya saya ucap.
"Kejarlah Apa yang Kita Minati, Kesuksesan akan datang dengan Sendirinya"
Jika kita sudah dapat kerja yang sesuai dengan minat kita,  kerja sudah seperti hobby. Perlu kita akui mendapat gaji yang besar itu tidaklah mudah dan instan. Butuh kerja keras dan kesabaran. Intinya kita harus Ikhlas dan Nyaman. Masalah gaji yang berlimbah akan mengikuti dengan sendiri.

Update!
Setelah saya lulus D3 di IPB, prinsip saya perlahan berubah haluan. Berawal dari seorang idealis menjadi seorang yang idealis+realis. Ini merupakan postingan saya waktu saya SMA (lebih tepatnya transisi ke masa kuliah). Dan ini merupakan update postingan saat saya sudah lulus kuliah.

Sebenarnya sah-sah saja jika kita mempunyai planing yang jelas (tujuan hidup, mau jadi apa kita di masa depan) namun setelah saya melewati dunia "dewasa" pemikiran idealis seperti itu perlahan berubah menjadi lebih fleksible tak perlu kaku alias tak mengapa dibarengi dengan sikap realis. Sikap realis itu seperti apa? sikap realis adalah sikap kita untuk mengambil jalan sesuai dengan kenyataan yang sedang terjadi.

Contoh kasus. Si A merupakan sarjana lulusan teknik sipil. Setelah lulus Si A mendapat tawaran bekerja di Bank swasta dengan gaji yang lumayan besar. Si A bingung, di sisi lain ia ingin sekali membuka usaha konsultan sendiri, namun modal yang dibutuhkan untuk membuka usaha konsultan sendiri tidaklah kecil. Menjadi konsultan terkenal merupakan cita-cita Si A dari dulu. Hingga akhirnya Si A memutuskan untuk menerima tawaran Bank Swasta tersebut. Saat bekerja di Bank, Si A bertujuan untuk mengumpulkan modal terlebih dahulu dan berusaha mencari pengalaman dunia kerja terlebih dahulu. Setelah Si A sudah tau seluk beluk dunia usaha/kerja dan pastinya sudah memiliki modal barulah Si A memutuskan untuk resign dan merintis usaha konsultannya tersebut.

Tapi itu semua tergantung prinsip kita masing-masing ya sob, kalaupun kita berbeda pendapat itu sangatlah wajar, yang terpenting adalah ikhlas dan tulus menjalani semua pilihan kita.

3. Satukan Tujuan Hati dengan Pendapat Orang Tua

Jika kita mendapat masalah terhadap adanya perbedaan pendapat dengan orang tua bagaimana solusi mengatasinya??

Pertama, sering-seringlah mengadakan rapat khusus dengan keluarga/orangtua.
- Coba bicarakan minat bakat kamu sebenernya.
- Yakinkan dan satukan tujuan kalian dengan orang tua.
- Bahas satu persatu kelebihan jika kalian kuliah di bidang yang kalian minati
- Dan jangan lupa kita juga harus membahas tentang kekurangan/masalah jika kita tetep memilih kuliah dengan tujuan kita sendiri. Baru kemudian didiskusikan masalah tersebut bersama-sama.

Kedua, Buktikan bahwa minat kita itu tidak hanya setengah-setengah atau hanya sekedar minat seru-seruan saja. Bagaimana cara membuktikan kesungguhan kita? Tingkatkan nilai mata pelajaran yang berhubungan dengan minat kita, ikuti perlombaan-perlombaan yang berhubungan dengan minat kita. Sukur Alhamdulillah jika dapat juara agar orangtua tambah bangga dan percaya.

Ketiga, Cari Informasi sebanyak - banyaknya tentang minat bakat kita. Contoh kita mau kuliah di bidang Arsitek dan Teknik Lingkungan. Cari info-info perguruan tinggi yang membuka program studi tersebut. Cari info-info prospek kerjanya apa aja. dll. Pasti dengan banyaknya informasi yang kita sajikan dan jelaskan ke orangtua, orangtua pun sedikit demi sedikit mulai mengerti dan setuju dengan apa yang kita mau.

4. Jangan Gengsi Memilih Tempat Kuliah

Sekarang saya kuliah di Institut Pertanian Bogor Program Diploma Program Keahlian Teknik dan Manajemen Lingkungan. Jujur waktu saya SMA tidak ada niat sedikitpun kuliah di D3. Ekspetasi saya, saya akan menjadi sarjana S1. Tapi Allah berkehendak lain.
Sekedar sharing, saya akan paparkan track record proses kerja keras saya dalam meraih Perguruan Tinggi Idaman.

1. SNMPTN
Pilihan 1) Sistem Informasi (UI) GAGAL
Pilihan 2) Arsitek Landscape (IPB) GAGAL
Pilihan 3) Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (IPB) GAGAL

2. USMI D3 IPB
Pilihan 1) Teknik dan Manajemen Lingkungan BERHASIL
Pilihan 2) Komunikasi GAGAL
Pilihan 3) Informatika GAGAL

3. SBMPTN
Pilihan 1) Teknik Industri (ITB Kampus Ganesa) GAGAL
Pilihan 2) Teknik Industri (ITB Kampus Jatinangor) GAGAL
Pilihan 3) Arsitek (ITB Kampus Ganesa) GAGAL

4. SIMAK UI

Pilihan 1) Sistem Informasi GAGAL



Entah apakah salah atau benar strategi saya dalam menentukan pilihan - pilihan jurusan dan kampus. Tapi intinya selagi kita merasa yakin dan bisa kenapa tidak?? Tapi sayangnya saya hanya bisa meraih PTN di jalur D3 itupun saya sangat bersyukur sekali. Saran dari saya, jika kalian akan menentukan pilihan-pilihan, cobalah pilih pilihan yang sesuai dengan minat dan kemampuan kalian masing-masing. Faktor doa dan keberuntungan pun sangat besar loh sob... bukan berarti orang pinter terjamin akan masuk ke perguruan tinggi idaman.

Balik lagi ke masalah Jangan Gengsi memilih tempat kuliah. Yang perlu kalian ingat
"Kalian harus merasakan betapa sulitnya mendapatkan Perguruan Tinggi Idaman apalagi Negeri"

Saat ini saya akan membahas dua point yang biasanya menjadi problema diantara calon mahasiswa, yaitu:

1. Antara PTS (Perguruan Tinggi Swasta) dan PTN (Perguruan Tinggi Negeri)
Mau PTS atau PTN menurut saya sama aja, bahkan ada juga kok PTS-PTS yang kulitasnya setara bahkan lebih dari PTN. Mau sebagus apapun akreditasi Perguruan Tinggi jika kita belajarnya tidak serius tetep saja tidak menjamin kita akan sukses kan?? So buat kalian yang mungkin masuk PTS jangan berkecil hati. Kesuksesan seseorang bukan dilihat darimana asal kita kuliah. Tapi ketekunan dan usaha keraslah yang menjadikan kita semua sukses.

2. Antara D3 dan S1
Ini nih... Masalah juga nih. Sempet saya "kesal" jika mendengar kata "Ko kuliahnya D3? kenapa gk S1 sekalian aja?" Saya juga sangat ingin sekali kuliah S1 tapi apa boleh buat Allah sudah memberikan jalan jika saya harus kuliah di D3. Semua itu ada proses dan jalannya masing-masing. Saya sebagai manusia hanya bisa berusaha, dan inilah yang Allah kasih buat saya. Buat kalian-kaliansahabat hijauku berikut saya akan paparkan beberapa kelebihan kuliah di D3.

Kelebihan Kuliah di D3
1. Hanya membutuhkan 3 tahun untuk lulus.
2. Prospek mendapatkan pekerjaan lebih luas dan cepat dibandingkan dengan S1
3. Kemampuan di dalam praktek lapangan sangat mumpuni
4. Bisa dilanjutkan ke jenjang D4 ataupun S1
Jadi mulai sekarang cobalah membuka fikiran terhadap D3 yang sebenarnya.

Tambahan:
Berikut adalah DAFTAR JURUSAN di PTN

Update!
Seperti yang diceritakan sebelumnya, saya merupakan lulusan D3 IPB (kampus PTN). Setelah saya lulus akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan studi saya ke jenjang yang lebih tinggi. Saya melanjutkan ke program pendidikan Teknik Lingkungan di Institut Teknologi Nasional (kampus PTS di Bandung). Pertanyaannya, kenapa memilih swasta?. Salah satu alasan penting saya memilih kuliah di ITENAS yaitu akreditasi jurusan Teknik Lingkungan sudah kategori A. Kedua adalah jurusan tersebut masih serumpun dengan jurusan saya yang dulu. Sayang sekali padahal sudah lulusan negeri, kenapa dilanjut kuliah? kenapa tidak langsung bekerja saja? Jujur saja saya merasa ilmu yang saya dapat selama kuliah 3 tahun di IPB masih jauh sekali (entah kenapa saya masih haus akan ilmu pengetahuan 😁). Terlebih saya ingin mewujudkan cita-cita saya yaitu dari D3 menuju S3Aamiin.

Ok mungkin itu saja postingan yang kali ini saya bisa sampaikan. Semoga membantu. Terimakasih. Salam Hijau!!

Wassalamualaikum...



Sumber: Pengalaman Pribadi